Jombang (beritajatim.com) – Meski awalnya sukses menyusup ke pesawat Boeing 737 milik Garuda, namun aksi Choirun Nasichin akhirnya terbongkar. Mengetahui hal itu, ratusan CJH (Calon Jamaah Haji) heboh. Ada yang sempat mengusulkan agar warga Dusun Ngrumek, Desa Nglele, Kecamatan Sumobito, Jombang ini dilempar dari atas pesawat. Ada pula pula yang menganggap Choirun orang kurang waras alias gila.
“Kalau ingat detik-detik itu, saya masih deg-degan. Seluruh penumpang panik. Ada yang mencurigai kalau saya ini pembajak pesawat dan harus dilempar dari awang-awang. Ada pula yang menganggap saya sempel (gila),” ujar Choirun menceritakan pengalamannya 31 tahun silam itu.
Choirun berkisah, terkuaknya penyusupan itu bermula saat pramugari membagikan jatah makan malam. Layaknya penumpang resmi, anak kedua dari enam bersaudara ini mendapatkan jatah tersebut. Usai bersantap, pramugari menawari Choirun agar duduk di kursi tengah yang notabene masih kosong. Hanya saja, tawaran itu bertepuk sebelah tangan. Choirun tetap memilih duduk di deretan kursi paling belakang.
BACA JUGA:
Kisah ‘Kaji Nunut’ Asal Jombang, Naik Haji Bawa Uang Rp 54 Ribu
Kepada pramugari, Choirun mengatakan dengan polos bahwa keberadaannya di pesawat sekadar nunut alias nebeng. Otomatis, jawaban itu membuat sang pramugari terkaget-kaget. Singkat cerita, kru pesawat lainnya langsung mengerumuni anak dari pasangan Zainudin dan Siti Qofsah ini. Mereka menanyakan identitas calon jamaah haji milik Choirun.
“Ditanya paspor, surat calon haji, saya malah bingung. Yang saya tahu saat itu bahwa naik pesawat harus punya tiket. Lalu saya bilang, karena tidak punya uang untuk beli tiket, maka saya nunut. Mendengar jawaban itu, seluruh kru pesawat justru bingung,” katanya sembari tersenyum.
Dalam sekejab, ratusan CJH yang berada di atas ‘burung besi’ akhirnya tahu bahwa kloter IX kemasukan penumpang gelap. Respon yang diberikan mereka pun bermacam-macam. Yang paling ekstrim, ada celetukan meminta agar Choirun dilempar dari pesawat, karena diduga akan melakukan pembajakan. Ada pula yang beranggapan Choirun gila.
Bertemu Guru Sekolah di Pesawat
Ketegangan itu segera mencair menyusul hadirnya CJH bernama Yazid Abdullah. Yazid kemudian menjelaskan kepada seluruh penumpang bahwa Choirun adalah orang baik. Dia juga berani menggaransi bahwasannya Choirun bukan pembajak pesawat.
“Pak Yazid itu tetangga saya di dusun. Beliau juga guru saya madrasah. Kebetulan, beliau juga satu pesawat dengan Saya. Nah, setelah diberi penjelasan oleh Pak Yazid, seluruh CJH justru menaruh empati,” ujar pria kelahiran 4 Agustus 1962, ini.
Sayangnya, Choirun tidak tahu secara pasti berada di wilayah mana saat keberadaannya sebagai haji nunut itu terbongkar. Masih di wilayah Indonesia atau sudah memasuki batas negara lain. Yang ia tahu, aksinya tersebut terkuak dua jam setelah pesawat lepas landas dari Bandara Udara Juanda. Usai penyusupannya terkuak, Choirun juga sempat hendak diturunkan di Dubai. Namun upaya itu tidak dilakukan karena seluruh penumpang sudah yakin bahwa warga Ngrumek ini bukan teroris.
BACA JUGA:
Ini Rahasia ‘Kaji Nunut’ Jombang Bisa Tak Terlihat saat Naik Pesawat
Walhasil, perjalanan haji nunut ini diteruskan hingga pesawat yang berangkat pada 11 Mei 1992 malam itu mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jedah. Untuk menghindari petugas imigrasi Saudi Arabia, Choirun terpaksa disembunyikan ke dalam toilet oleh kru pesawat.
Ketika situasi aman, lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs) ini diterbangkan lagi ke Bandara Juanda. Ya, niat Choirun untuk bisa menunaikan rukun islam kelima pun kandas.
Saat peristiwa itu, Choirun masih berumur 30 tahun. Saat ini Choirun berusia 61 tahun. Dia tidak lagi tinggal di Dusun Ngrumek. Tapi di Kecamatan Bangsal Kabupaten Mojokerto. Saat dihubungi Rabu (21/6/2023), Choirun yang kini memiliki kesibukan sebagai pembimbing haji dan umrah, menyilakan wartawan beritajatim.com untuk kembali menuliskan kisah yang terjadi pada 1992 tersebut. [suf/bersambung]






