Tuban (beritajatim.com) – Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, menargetkan angka stunting di daerahnya turun 17 persen akhir 2023. Target ini ditetapkan Lindra saat Rembug Stunting bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Tuban.
“Kami minta untuk Tim Percepatan Penurunan Stunting agar mempunyai inovasi dan melakukan pengembangan tentang cara penyampaian program stunting kepada masyarakat,” ujar Lindra.
Penanganan stunting di Tuban dinilai masih kurang efektif dalam satu tahun terakhir. Ini terlihat dari angka stunting yang masih mencapai 24,9 persen.
Walaupun ada penurunan sifatnya masih sangat kecil. Sehingga Lindra meminta seluruh program menerapkan model pendekatan yang lebih kreatif dan dekat dengan pemahaman masyarakat.
“Pendekatan yang dilakukan saat ini masih tidak familiar di kalangan masyarakat awam. Istilah-istilah akademis harus disederhanakan agar mudah dipahami,” kata Lindra.
Baca Juga:
Satpol PP Tuban Bongkar 24 Baliho Parpol Kedaluwarsa
Lindra menilai cara penyampaian stunting yang dijalankan selama ini masih terlalu kaku, membosankan, sehingga tidak dipahami masyarakat dengan baik. Dia menekankan untuk lebih menggunakan metode yang bisa lebih mengena di masyarakat.
“Bisa lewat pendekatan budaya, masuk ke pengajian misalnya, ajak Bu Nyai, Pak Yai untuk sampaikan pentingnya penanganan stunting, atau ke acara arisan,” tegas Lindra.
Dia juga menegaskan penyelesaian masalah stunting diperlukan koordinasi dan sinergi yang intensif antar OPD dan lembaga. Dengan adanya Rembuk Stunting yang melibatkan pihak terkait seperti Camat, Kepala Puskesmas, OPD terkait, Organisasi Wanita, hingga akademisi, diharapkan dapat melahirkan kebijakan nyata yang bisa diimplementasikan segera, dan efektif.
“Evaluasi kegiatan juga harus terus dilakukan, agar muncul metode penyelesaian baru yang adaptif dan dekat dengan masyarakat,” terang Lindra.
Lindra juga memaparkan bahwa angka stunting di Kabupaten Tuban saat ini masih di angka 24,9 persen. Sehingga, pihaknya menargetkan turun menjadi 17 persen di akhir tahun 2023, dan 14 persen di tahun 2024 sesuai target nasional.
“Untuk itu, acara seperti ini jangan seremonial saja, namun harus ada output nyata, setelah ini, saya menunggu ide-ide dan inovasi baru bapak-ibu,” pintanya.
Ditempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan KB (DInkes P2KB) Bambang Priyo Utomo mengungkapkan, pihaknya akan segera melaksanakan instruksi dari Mas Bupati untuk melakukan metode pendekatan budaya kepada masyarakat pada program penurunan angka stunting.
Baca Juga:
Perumda Air Minum Tirta Lestari Tuban Setorkan PAD Sebesar Rp 7 Miliar
“Iya, segera kita laksanakan dengan Forkopimka masing-masing, agar lebih memasyarakat,” kata Bambang.
Kemudian, yang ditargetkan oleh Bupati Tuban untuk menurunkan 17 persen pada akhir tahun 2023, Bambang akan memaksimalkan program yang ada.
“Segera kita lakukan, agar angka penurunan terjadi secara signifikan,” pungkasnya.
Dalam acara tersebut, turut dihadiri oleh Wakil Bupati Tuban Riyadi, DPRD Tuban, Forkopimda, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sekda Budi Wiyana, Kepala OPD, Camat, Ketua TP PKK, Bunda Paud Kabupaten Tuban, seluruh organisasi wanita di Kabupaten Tuban, pimpinan perusahaan, rumah sakit, akademisi, kepala Puskesmas, bidan desa, hingga pemerintah desa lokus stunting, serta seluruh Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Tuban. [ayu/beq]






