Kediri (beritajatim.com) – Puluhan ribu jamaah menghadiri Haul ke-32 KH Khamim Thohari Djazuli atau yang karib disapa Gus Miek di Kedhaton Gus Miek Loring Pasar, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, pada Kamis malam (20/6/2024).
Jumlah jamaah yang hadir dalam haul eksklusif ini lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.
Penasihat Moloekatan Gus Miek Dr. Ir. H. Kholil Hasyim mengatakan, sedikitnya ada 60.000 hingga 65.000 orang jamaah yang hadir dalam haul ini. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 45.000 orang.
“Kira-kira ini ada peningkatan. Kalau tahun 2023 Insya Allah 45.000 jamaah, sekarang meningkat sekitar Rp60.000-65.000 jamaah. Dari terop yang sudah dipasang juga jauh lebih besar dari tahun lalu,” terang H. Kholil Hasyim.
Secara umum, imbuh mantan Wakil Rektor Universitas Darul Ulum Jombang ini, rangkaian acara haul tahun ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya yakni, dimulai dari salat subuh hingga puncak acara yang ditutup oleh doa khotmil quran. Tetapi letak eksklusif haul ke-32 ini pada acara inti seusai salat magrib.
“Jadi mulai salat subuh berjamaah. Kemudian pembacaan Alquran yang dilaksanakan oleh huffadul Quran. Dilanjutkan dengan salat dhuha berjamaah. Salat dhuhur, sampai dengan salat maghrib berjamaah. Ini agak eksklusifnya disini, pada saat dilakukan salat magrib berjamaah dilanjutkan dengan dzikul ghofilin dan sampai salat isaya berjamaah dan acara puncak ditutup dengan khotmil quran,” jlentrehnya.
Kholil Hasyim berharap para jamaah bisa meneladani konsep yang dibangun oleh Gus Miek. Dimana, semaan Alquran harus mampu menyeimbangkan antara hubungan vertikal (kepada Allah SWT) dengan hubungan horizontal (antar sesama manusia).
Adapun tema yang dipilih haul eksklusif ke-32 sendiri, imbuh Kholil Hasyim adalah cara untuk menanggulangi terpecah belahnya umat.
makna haul ini, maknanya adalah diharapkan bahwa pada jamaah mampu meneladani konsep yang sudah dibangun oleh Gus Miek. Jamaah semaan alquran harus mampu menseimbangan antara hubungan vertikal dengan hubungan horizontal.

Hadirkan 10 Huffadz se-Jawa Timur
Haul ke-32 Gus Miek ini menghadirkan 10 orang huffadz atau penghafal Alquran. Mereka berasal dari seantero Jawa Timur yang selama ini mengikuti semaan Alquran Gus Miek.
“Tidak ada pengajian umum dalam setiap kegiatan ini. Setelah semaan tidak ada pidato-pidatoan. Dengan harapan berkahnya bisa manjing (masuk ke hati) dan untuk keluarga,” terangnya.
Tema : Mencegah Pecah Belah Umat Islam
Haul ke-32 Gus Miek mengusung tema tentang mencegah pecah belah umat Islam. Makna ini diambil berdasarkan relevansi dengan kondisi sekarang ini.
H Kholil Hasyim mengatakan, dalam upaya menanggulangi pecah belah umat Islam, Gus Miek mewarisi setiga pengamanan. Antara lain, Semaan Alquran dan Dzikrul Ghofilin.
“Harapannya jamaah betul-betul mau, tahu diri, koreksi diri dan mawas diri. Secara otomatis harapannya, jamaah betul-betul merasa tidak punya ap-apa, hanya mempunyai Allah SWT. Sehingga tidak merasa bisa menata hati, dan tidak merasa lebih baik daripada orang lain,” tegasnya.
H Kholil Hasyim berharap para jamaah bisa meneladani konsep yang dibangun oleh Gus Miek. Dimana, semaan Alquran harus mampu menyeimbangkan antara hubungan vertikal (kepada Allah SWT) dengan hubungan horizontal (antar sesama manusia).
Menurut H. Kholil Hasyim, Gus Miek adalah sosok ulama kharismatik. Putra pendiri Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri KH Jazuli Ustman itu memiliki cara berdakwah yang sangat unik dan berbeda dari kiai-kiai pada umumnya. Gus Miek berdakwah secara senyap dan ikhlas didefinisikan oleh siapa pun dengan definisi apapun.
“Beliau adalah sosok pecinta dan sosok perindu. Dicintai banyak orang dari kalangan apapun dan latar belakang apapun. Juga dirindukan oleh setiap orang. Semua mengharapkan untuk bertemu beliau. Beliau sering dihina, diejek, diolok -olok. Tetapi beliau menghadapi dengan senyuman dan kasih sayang. Jadi cara dakwahnya sangat unik sekali,” terangnya.
Sudah bukan menjadi rahasia lagi. Gus Miek sering masuk ke ‘lembah hitam’ dalam berdakwah. Gus Miek memiliki alasan memilih diskotik sebagai tempat syiar Agama Islam, karena beliau memastikan bahwa orang-orang yang ada di tempat hiburan malam juga menginginkan surga. [nm/aje]







