Gresik (beritajatim.com) – Sebanyak 500 pekerja perempuan turut andil membangun proyek fenomenal PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik. Proyek smelter terbesar itu sesuai planning-nya ditarget beroperasi di tahun 2024. Keberadaan pekerja perempuan tersebut, diharapkan bisa menunjang pembangunan PTFI.
Project Director PT Freeport Indonesia Chris McCoy mengatakan, dirinya sangat bangga sejauh ini mempunyai karyawan-karyawan perempuan berbakat.
“Sejak beberapa bulan terakhir menerima beberapa feedback terkait pekerja perempuan. Di antaranya penambahan training untuk karyawan perempuan, serta penambahan 10 kamar mandi, serta 2 mushola di lapangan,” katanya, Jumat (4/08/2023).
Chris McCoy memberi contoh saat ini perusahannya mempunyai pekerja perempuan yang baik salah satunya yaitu ibu Yoga. Sejak 2019 PTFI mempunyai karir yang bagus, dan sekarang menduduki sebagai konstruktor manager.
“Semuanya harus mengikuti jejak Ibu Yoga agar bisa sukses di bidang masing-masing. Setelah acara ini kita bagikan juga hijab untuk pekerja perempuan dengan kreasi baru jilbab yang mampu menyerap keringat,” ujarnya.
Sebagai project director lanjut dia, pihaknya mendukung sekali kesetaraan gender. Ini merupakan momen bagus antara perusahaan dengan pemerintah yang tidak boleh kalian sia siakan.
“Tanpa kerja keras, proyek ini tidak dapat mencapai kesuksesan. Karena kesuksesan ini berkat kalian semua,” ungkap Chris McCoy.
Baca Juga: Smelter Freeport Indonesia di Gresik Dukung Industri Hilir
Sementara itu, Wabup Gresik Aminatun Habibah yang hadir di ‘Women Focus Group’ menuturkan, dirinya berharap PTFI menambah lagi jumlah tenaga kerja perempuan.
“Saya rasa jumlah 500 orang masih kurang, kalau bisa ditambah lagi. Pasalnya,perempuan bisa bekerja sama bagusnya dengan pekerja laki laki,” tuturnya.
Wabup perempuan pertama di Gresik itu menambahkan, pekerja perempuan bisa menunjukkan yang terbaik untuk pekerjaannya. Kesetaraan gender di Kabupaten Gresik tidak ada, perbedaan antara perempuan dan laki laki.
“Yang membedakan hanya perempuan bisa hamil, melahirkan lalu menyusui yang tidak bisa digantikan oleh laki laki. Setiap tenaga kerja memiliki hak dan perlakuan sama tanpa diskriminasi,” pungkasnya. (dny/ted)
[berita-terkait number=”3″ tag=”freeport”]






