Surabaya (beritajatim.com) – Sebagai penulis pemula sering kali seseorang menjadi ragu. Entah karena bingung mau memulainya dari mana hingga perasaan takut akan penilaian buruk orang lain. Bahkan, hal ini juga kerap dirasakan oleh penulis-penulis senior.
Sebenarnya, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar lebih percaya diri untuk menulis. Salah satunya dengan cara perbanyak latihan. Adapun 5 latihan terbaik yang bisa dilakukan agar lebih jago dalam menulis, di antaranya;
Tulis apa yang kamu lihat
Latihan dasar yang bisa kamu lakukan ialah dengan menuliskan apa yang sedang atau pernah kamu lihat. Agar hal tersebut dapat terbayangkan oleh seseorang, tentu saja kamu perlu mendeskripsikannya lebih mendetail. Awalnya, kamu cukup menuliskan garis besarnya, kemudian kembangkan dan improve dengan ide baru.
Tulis apa yang kamu rasakan
Biasanya pengalaman yang sangat emosional justru dapat dengan mudah dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Maka sebagai bahan latihan terbaik, cobalah menulis apa yang sedang kamu rasakan. Mulai dari perasaan bahagia hingga kecewa bisa kamu tulis.
Hal ini juga dapat membuatmu lebih peka terhadap perasaan sendiri. Terlebih, tulisan yang dibuat dengan penuh perasaan biasanya lebih hidup atau mengena di hati para pembaca.
[berita-terkait number=”5″ tag=”cara”]
Menulis ulang cerita
Jika kamu masih bingung juga ingin menulis apa? Mungkin kamu bisa menulis ulang sebuah cerita. Entah dari novel atau cerpen yang kamu baca, film yang kamu tonton, atau bahkan sekadar dari cerita pengalaman orang lain. Kamu bisa mencoba menulis ulang hal tersebut. Mungkin hal yang demikian memang dirasa lebih mudah untuk dilakukan.
Tulis buku harian
Layaknya menulis ulang cerita, menulis buku harian pun konsepnya sama. Hanya saja lebih kepada pengalaman pribadi yang dilakukan sehari-hari. Selain untuk mengabadikan pengalaman hidup, hal ini sekaligus untuk melatih kemampuan menulis. Terlebih jika buku harian ditulis secara rutin.
Menganalisis cerita
Berbeda dengan menulis ulang cerita, melatih diri dengan menganalisis cerita lebih pada mengungkapkan pendapatmu mengenai sebuah cerita. Misalnya setelah membaca cerita fiksi, kamu memberikan ulasan mengenai kekurangan, kelebihan, hal yang kamu suka, hingga yang tidak disuka. Hal ini tak hanya melatih kemampuan menulis saja, melainkan juga pemikiran kritis. (fyi/nap)






