Surabaya (beritajatim.com) – Pernah dituding masa depan buruk karena dianggap malas? atau dicap sebagai anak tidak baik hanya karena malas melakukan ini dan itu?
Stereotip bahwa malas adalah sikap yang buruk memang sudah mendarah daging di masyarakat. Namun tahukah kamu bahwa, rasa malas memiliki banyak sisi positif, bahkan riset pun mendukungnya.
Riset tersebut dilakukan oleh Prof. Masud Husain dari Universitas Oxford. Risetnya menunjukkan kemalasan, membuat seseorang berpikir lebih keras untuk memecahkan suatu persoalan.
Lucy Gransbury, seorang aktris dari Australia juga memberikan perspektif yang bertolak belakang dengan pendapat pada umumnya tentang kemalasan.
Baginya, orang malas justru selalu menemukan cara tercepat untuk mencapai tujuan agar tidak buang-buang waktu. Pendapatnya juga diamini oleh Bill Gates. Bahkan pendiri Microsoft itu mengatakan, dirinya akan memilih orang malas untuk mengerjakan sesuatu yang sangat susah karena ia percaya bahwa orang malas akan menemukan cara paling cepat untuk menyelesaikan pekerjaannya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”cara”]
Malas sendiri dalam KBBI berarti tidak mau mengerjakan sesuatu. Bahkan jika itu pekerjaan yang dianggap baik dan sederhana. Baiklah langsung saja kita kupas satu-persatu, hal baik apa saja dibalik sifat seorang pemalas.
1. Berpikir lebih keras
Nenek moyang kita, jauh sebelum memutuskan hidup secara menetap dan bercocok tanam. Mereka hidup dengan cara nomaden (berpindah-pindah) dan mengandalkan alam untuk bertahan hidup.
Lambat laun, karena kegiatan nomaden dianggap melelahkan atau bisa kita sebut mereka telah malas untuk melakukannya. Lalu timbullah pemikiran untuk meninggalkan kebiasaan itu dan memilih hidup menetap, lalu bercocok tanam. Itulah cikal bakal ditemukannya ilmu cocok tanam.
2. Berpikir kreatif
Dahulu orang harus berjalan kaki untuk menuju suatu tempat, seberapapun jauhnya. Tentu itu adalah kegiatan yang melelahkan. Manusia lalu mulai berfikir bahwa pekerjaan itu tidak efektif dan melelahkan, akhirnya manusia mulai berpikir untuk menciptakan kendaraan.
Tidak hanya itu, banyak teknologi atau penelitian justru lahir dari sifat malas. Seperti, kemalasan mencuci baju dengan tangan, peneliti mulai berfikir membuat mesin cuci.
3. Lebih mudah dalam menentukan prioritas
Orang yang malas melakukan suatu pekerjaan, cenderung lebih mengenal apa yang jadi prioritasnya. Sebab, ia tidak akan mengerjakan sesuatu, jika memang itu tidak jadi prioritas di hidupnya.
Dia akan mengambil cara yang paling efisien untuk mencapai targetnya, hal itu secara tidak langsung akan membuatnya berlatih membuat keputusan yang tepat agar tidak membuang waktunya.
4. Lebih efisien dalam menghabiskan energi
Sebelum ada roda, kita harus memindahkan barang secara manual dengan tangan. Hal itu membuat waktu dan energi kita terbuang lebih banyak. Orang lalu menemukan roda sebagai alat untuk memindahkan barang agar lebih ringan dan lebih efisien. Baik secara waktu maupun energi.
Penemuan tersebut selain lahir atas dasar berpikir kreatif, juga wujud dari keinginan manusia untuk lebih efisien dalam menghabiskan energinya. Itu juga berlaku dalam pengambilan keputusannya di berbagai aspek. Orang malas, tidak akan mau membuang waktu dan energinya untuk hal-hal yang tidak diinginkan. Ia hanya mau mengeluarkan tenaganya untuk apa yang ia rasa penting.
5. Solutif
Meski terdengar aneh, tapi banyak solusi justru lahir dari seorang pemalas. Hal itu dikarenakan orang yang malas enggan membuang-buang waktunya.
Jadi, ia selalu berusaha menemukan cara tercepat untuk mencapai tujuannya sehingga tidak membuang-buang waktu dengan jalan yang sulit. (Jhn/nap)






