Surabaya (beritajatim.com) – Wacana naiknya BBM jadi perbincangan di masyarakat. Banyak yang menilai jika kenaikan ini terlalu terburu-buru dan tak punya dasar yang jelas. Hal itu lantas ditanggapi langsung oleh Staf Khusus Kementerian BUMN, Arya Sinulingga yang menyatakan bahwa kenaikan itu mesti dilakukan guna menghindari disparitas harga BBM yang terjadi di masyarakat.
Arya juga menilai jika perubahan harga ini sesuai dengan rancangan Kementerian ESDM dalam kenaikan harga Pertamax dari Rp 9000 per liter menjadi Rp 16000 per liter. Sebelum wacana kenaikan ini mulai diberitakan, harga BBM sebelumnya sudah pernah mengalami kenaikan.
Berikut ini 5 fakta mengejutkan soal kenaikan harga BBM:
1. Tidak turun ketika pandemi
Saat pandemi melanda, harga BBM tak turun dan membuat banyak masyarakat protes. Volume penjualan BBM pun menurun akibat pemberlakuan di rumah saja dan membuat kegiatan masyarakat dibatasi menjadi alasan Pertamina untuk tidak menurunkan harga BBM. Pihak Kementerian ESDM menjelaskan jika hal ini sudah sesuai dengan keputusan Kementerian ESDM yang menetapkan harga BBM tanpa subsidi yang beredar di masyarakat.
2. Kenaikan di awal pemerintahan Jokowi
Perubahan pemerintahan dari SBY dan Jokowi juga membuat harga beberapa bahan baku dan kebutuhan masyarakat meningkat, salah satunya BBM. Subsidi BBM premium yang dihapuskan saat awal pemerintahan Jokowi membuat harga premium jadi Rp 8500 per liter.
3. Pertamax Dilepas, Pertalite Masih Disubsidi
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menjelaskan jika pemerintah telah memutuskan untuk memberikan subsidi BBM jenis Pertalite. Hanya saja, Erick menjelaskan jika pemerintah tidak lagi akan memberikan subsidi harga Pertamax.
4. Subsidi BBM dan LPG Membengkak Jadi Rp 11 Triliun di Februari 2022
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, realisasi subsidi BBM, LPG dan listrik tahun ini akan lebih besar dibandingkan tahun 2021. Terjadi peningkatan volume BBM dan LPG dengan meningkatnya aktivitas masyarakat.
Penggunaan BBM hingga bulan Februari mengalami peningkatan menjadi 1,39 juta kiloliter dari 1,18 juta kiloliter. Volume gas LPG juga mengalami kenaikan jadi 632,7 juta kilogram dari awalnya, 603,2 juta kg. Sementara itu, jumlah pelanggan listrik bersubsidi ikut naik dari 37,2 juta jadi 38,2 juta.
5. Sudah naik sejak tanggal 1 April 2022
Menuju kehidupan New Normal di tengah pandemi, baru baru ini pihak Kementerian ESDM mengungkap bahwa kenaikan BBM Pertamax menjadi Rp 12.500 per liter mulai 1 April 2022 dikarenakan harga barel minyak yang meninggi akibat invasi Rusia dan Ukraina. Hal ini juga diikuti dengan kenaikan bahan baku lain seperti gula dan minyak goreng.
Itulah beberapa fakta mencengangkan dari kenaikan harga BBM. Kira-kira apakah akan ada penurunan BBM atau justru makin naik lagi? [dan/esd]






