Surabaya (beritajatim.com) – Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan kekerasan yang terjadi pada lingkup rumah tangga. Hal ini umumnya dialami pada suami-istri atau pasangan serumah. Namun, tidak jarang juga kekerasan dialami oleh anak ataupun orang tua.
Pada dasarnya, KDRT sendiri memiliki tingkatan, mulai dari ringan hingga berat, misalnya secara fisik yang sampai membuat korbannya alami luka permanen atau bahkan meninggal. Adapun beberapa jenis kekerasan dalam rumah tangga yang pelu kamu ketahui, di antaranya;
1. Kekerasan fisik
Kekerasan fisik yang dilakukan oleh seseorang kerap kali membuat korban tak hanya mengalami trauma, melainkan juga lebam, luka terbuka, cidera dalam, hingga bisa berujung pada kematian, terlepas pelaku menggunakan tangan kosong atau bahkan senjata tertentu.
2. Kekerasan psikis
Selama ini masyarakat banyak yang menganggap bahwa KDRT sebatas tentang fisik. Padahal, seseorang bisa juga alami kekerasan psikis atau emosional. Hal ini biasanya terjadi secara verbal, melalui penghinaan, bentakan, mempermalukan, hingga kritik yang terus-menerus dilakukan. Biasanya ini dilakukan untuk membatasi, mengendalikan, atau mengisolasi orang lain.
3. Kekerasan seksual
Kekerasan seksual nyatanya juga bisa terjadi dalam lingkup keluarga. Dalam banyak kasus, yang kerap menjadi korban ialah anak-anak. Selain itu, hubungan seksual yang tanpa persetujuan, pemaksaan, eksploitasi, hingga pemaksaan aborsi juga masuk dalam jenis kekerasan seksual.
[berita-terkait number=”6″ tag=”kasus”]
4. Kekerasan ekonomi
Selain kekerasan fisik, psikis, dan seksual, ada juga jenis kekerasan ekonomi. Hal ini bisa berupa eksploitasi dan perbudakan anggota keluarga. Selain itu, tidak memberikan nafkah pada keluarga juga tergolong dalam bentuk kekerasan.
Dalam kasus KDRT secara global, korban kekerasan dalam rumah tangga yang paling banyak dialami oleh perempuan. Dalam perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia, satu dari tiga perempuan di dunia bahkan alami kekerasan sepanjang hidupnya. Hal ini juga didukung dengan laki-laki yang kerap melakukan pembelaan diri dengan melakukan kekerasan.
Umumnya, anak-anak yang tinggal di lingkup keluarga bermasalah kerap menunjukkan gejala-gejala psikologis, seperti menghindar, rasa ketakutan, tidak percaya diri, hingga trauma berkepanjangan. (Fyi/ian)






