Ringkasan Berita
- Sebanyak 37 siswa dari tiga SDN di Kota Kediri diduga mengalami gangguan kesehatan usai menyantap MBG.
- Sepuluh siswa menjalani perawatan di RSUD Gambiran, sedangkan 27 lainnya menjalani rawat jalan.
- Investigasi menemukan sejumlah catatan terkait higienitas, APD, waktu pengolahan, dan penyimpanan bahan makanan.
- SPPG Kaliombo dihentikan sementara sambil menunggu hasil uji laboratorium dan evaluasi BGN.
Kediri (beritajatim.com) – Jumlah siswa yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Kediri bertambah menjadi 37 anak. Mereka berasal dari SDN Kampung Dalem 3, SDN Kampung Dalem 4, dan SDN Kaliombo.
Dari jumlah tersebut, 10 siswa menjalani perawatan di RSUD Gambiran, sedangkan 27 siswa lainnya mendapat penanganan medis dan menjalani rawat jalan. Perkembangan ini terjadi setelah sebelumnya keluhan kesehatan dilaporkan pada sejumlah siswa SDN Kampung Dalem 3.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan, siswa yang mengalami gejala langsung dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.
“Jadi segera oleh pemerintah kota kita melakukan langkah. Jadi siswa yang terdampak keracunan ini segera dibawa ke Puskesmas terdekat. Kemudian ada juga yang dibawa ke Rumah Sakit Gambiran,” katanya.
Vinanda mengatakan kondisi siswa yang menjalani rawat jalan sudah menunjukkan perbaikan. Sementara siswa yang masih dirawat di RSUD Gambiran terus dipantau tim dokter karena sebagian masih mengalami muntah dan membutuhkan pemulihan.
“Alhamdulillah yang rawat jalan tadi sudah membaik dan yang ada di Gambiran saat ini kondisinya masih pemulihan, masih ada yang muntah dan lain sebagainya sehingga tadi dokter-dokter pun juga selalu melakukan pemantauan,” terangnya.
Penyebab Masih Menunggu Hasil Laboratorium
Pemkot Kediri belum menyimpulkan penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para siswa. Sampel makanan telah diambil untuk menjalani pemeriksaan laboratorium guna mengetahui kemungkinan adanya kontaminasi bakteri maupun bahan makanan yang tidak aman.
Pemkot juga berkoordinasi dengan TNI, Polri, Kejaksaan, dan Badan Gizi Nasional (BGN) dalam proses investigasi. Vinanda mengatakan hasil laboratorium nantinya menjadi salah satu dasar menentukan langkah berikutnya.
“Untuk penyebabnya, ini sampel masih dilakukan uji lab. Dan nanti segera akan keluar hasilnya. Kita masih cari tahu apakah ini dari bakteri ataukah memang ada bahan makanan yang tidak aman untuk anak-anak sehingga hasil labnya masih proses,” jelasnya.
Sambil proses pemeriksaan berlangsung, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kaliombo yang menyuplai makanan ke sekolah terdampak dihentikan sementara operasionalnya.
Investigasi Temukan Catatan Higienitas SPPG
Pemkot Kediri kemudian melakukan investigasi langsung ke SPPG Kaliombo pada Kamis (17/9/2026) malam. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat proses pengolahan makanan sekaligus mencari faktor yang perlu dievaluasi.
Dalam pemeriksaan awal, ditemukan sejumlah catatan terkait aspek kebersihan atau higienitas. Vinanda mengungkapkan, tim menemukan kucing masuk ke area pengolahan ketika ayam diletakkan di bagian bawah.
“Tadi kami melakukan investigasi mencari penyebab terjadinya keracunan yang terjadi hari ini. Kita bisa lihat bersama tadi ada beberapa catatan terkait kehigienisan. Tadi sampai ada kucing masuk tadi. Ketika ayamnya ditaruh di bawah, kucingnya masuk,” kata Vinanda.
Selain itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh petugas menjadi perhatian. Menurut Vinanda, masih terdapat petugas yang tidak menggunakan APD ketika melakukan proses pengolahan makanan.
“Termasuk ini tadi kita lihat untuk ompreng juga ada yang masih tidak menggunakan APD. Ini menjadi catatan bagi kita semua,” ujarnya.
Waktu Memasak dan Penyimpanan Ayam Disorot
Catatan lain berkaitan dengan waktu pengolahan makanan. Informasi yang diterima sebelumnya menyebut proses memasak dimulai sekitar pukul 02.00 WIB.
Namun, dari pemeriksaan rekaman CCTV, Pemkot menemukan aktivitas pengolahan telah berlangsung lebih awal dan berlangsung selama lebih dari empat jam.
“Karena yang dilaporkan jam 02.00 tapi ternyata di CCTV bisa kita lihat bersama tadi lebih dari 4 jam. Ini menjadi catatan kita yang bisa kita laporkan juga dan tentunya ini menjadi bahan evaluasi kita bersama,” terangnya.
Pemkot juga menyoroti penyimpanan bahan makanan berupa ayam. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, ayam disebut hanya berada di dalam freezer dalam waktu tertentu sebelum kembali dikeluarkan untuk dimasak.
“Tadi juga kita lihat ayam itu cuma di freezer hanya beberapa waktu saja. Jadi, di dalam freezer itu sebentar terus dikeluarkan lagi untuk dimasak. Nah, ini menjadi bahan evaluasi,” ucapnya.
Sejumlah temuan tersebut belum dapat disebut sebagai penyebab pasti gangguan kesehatan siswa. Penentuan penyebab tetap menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
SPPG Lain Juga Akan Dievaluasi
Pemkot Kediri menyatakan evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap SPPG Kaliombo. Pemerintah akan melakukan pemeriksaan terhadap SPPG lainnya untuk memastikan proses penyediaan makanan berjalan sesuai standar.
Terkait kemungkinan jumlah penerima manfaat yang memengaruhi proses pencucian ompreng, Vinanda mengatakan pemerintah akan menyesuaikannya dengan standar yang ditetapkan BGN.
“Tentunya nanti kita akan sesuaikan dengan standar yang sudah ditentukan oleh BGN. Apabila nanti tidak sesuai standar, tentunya kita akan melaporkan kepada BGN. Karena nanti yang bisa menutup kan ada BGN,” tegasnya.
Operasional SPPG Kaliombo dihentikan sementara mulai Jumat (18/9/2026). Langkah tersebut dilakukan sembari pemerintah berkoordinasi dengan BGN mengenai hasil investigasi dan tindak lanjutnya.
Kesehatan Siswa Jadi Prioritas
Di tengah proses investigasi, Pemkot Kediri memastikan penanganan kesehatan siswa menjadi prioritas. Pemerintah juga menyatakan siap berkoordinasi terkait biaya perawatan siswa terdampak.
“Kita koordinasikan, tapi pada prinsipnya kita siap. Ini menjadi tanggung jawab kita,” ujar Vinanda.
Selain penanganan medis, pemerintah menyiapkan pendampingan psikologis bagi siswa yang terdampak maupun siswa lain yang membutuhkan.
Kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak dihentikan secara keseluruhan. Siswa yang sehat tetap mengikuti pembelajaran, sedangkan siswa yang terdampak diminta beristirahat hingga kondisi kesehatannya pulih.
Vinanda menegaskan pemerintah akan terus mengawal proses pemulihan sekaligus memperkuat pengawasan terhadap seluruh rantai penyediaan makanan MBG.
“Kita tidak ingin ini ada lagi di Kota Kediri. Ini kita akan perkuat pengawasan, kita akan terus kawal dan tentunya kita akan selalu melakukan evaluasi dari sisi sanitasi, kebersihan, dari sisi bahan makanan yang layak,” pungkasnya.
Hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi bersama BGN nantinya menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan terhadap SPPG Kaliombo maupun pengawasan penyediaan MBG di Kota Kediri. [nm]/suf






