Banyuwangi (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus melakukan intervensi terhadap kasus Tuberkulosis (TBC) yang kini menjadi perhatian nasional.
Di Banyuwangi, tercatat sebanyak 3.169 warga dinyatakan positif TBC, sementara lebih dari 27 ribu lainnya masuk dalam kategori suspek.
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, mengatakan penyebaran kasus TBC dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan signifikan. Karena itu, penanganannya kini mendapat perhatian serius hingga tingkat nasional.
Amir menjelaskan, dari lebih dari 27 ribu suspek yang ditemukan, sebanyak 3.169 orang telah menjalani pemeriksaan laboratorium dan dipastikan positif TBC. Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok usia produktif.
“Sebagian besar kasus TBC di Banyuwangi terjadi pada kelompok usia produktif,” ujarnya.
Upaya penanggulangan terus diperkuat, terutama melalui pelacakan kontak erat di lapangan. Dinas Kesehatan juga menggandeng berbagai pihak, termasuk lembaga sosial, untuk memperluas jangkauan skrining di masyarakat.
“Petugas kami aktif turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap kontak erat, baik anggota keluarga, tetangga, maupun teman yang pernah berinteraksi dengan pasien positif,” jelasnya.
Untuk pasien yang telah terkonfirmasi, pemerintah menyediakan pengobatan gratis selama enam bulan melalui program Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Pasien diwajibkan menjalani pengobatan secara rutin tanpa terputus.
“Pengobatan harus dijalani secara rutin dan tidak boleh putus. Jika terhenti, berpotensi menimbulkan resistensi obat yang penanganannya jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama,” pungkasnya. [alr/but]






