Tuban (beritajatim.com) – 19 gangster kelompok SS yang meresahkan warga di wilayah Kabupaten Tuban menangis saat dijemput orang tua, usai diamankan oleh Satreskrim Polres Tuban.
Mereka dipulangkan, karena rata-rata masih dibawah umur dan hanya diberi sanksi pembinaan agar tidak mengulanginya lagi.
Sebelumnya penangkapan tersebut dilakukan rabu (17/01/2024) yang diduga gangster SS ini menyerang rumah salah satu warga di Perumahan Widengan, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban yang dipicu menagih hutang sebesar Rp 20 ribu kepada temannya yang tinggal di Perumahan tersebut.
Namun, karena banyaknya massa dan konvoi menggunakan kendaraan bermotor, 19 anak tersebut langsung dilaporkan warga setempat dan bergegas dari Satreskrim, Satlantas, Satintelkam Polres Tuban langsung mendatangi lokasi kejadian.
Kemudian, Kasat Reskrim AKP Rianto memanggil orang tua dari 19 anak tersebut untuk menjemput serta tanda tangan surat perjanjian tidak akan mengulangi lagi dan memberikan pembinaan di rumah.
“19 anak ini kami amankan tidak membawa senjata tajam,” ucap AKP Rianto.
Dan mereka semua dikembalikan ke orang tua, menurut Rianto mereka masih dibawah umur dan dalam pengawasan orang tuanya masing-masing, sehingga harapannya orang tua dapat memberikan pendampingan serta pengawasan untuk tidak melakukan hal-hal semacam itu.
“Ya mereka ini hanya kenakalan remaja saja, namun saya harap agar tidak diulangi kembali, peran orang tua di rumah ini juga sangat penting, sekiranya tidak usah keluar malam-malam atau misalnya sudah larut belum pulang dihubungi suruh pulang, supaya tidak ikut dengan kegiatan-kegiatan seperti ini,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu orang tua terduga pelaku berinisial SM asal Semanding ini menceritakan bahwa anaknya pamit pergi ngopi usai pulang kerja, namun tidak diketahui anaknya ini pergi ngopi dengan siapa dan dimana.
Lalu, tiba-tiba dapat kabar anaknya sudah di kantor polisi, seketika ia merasa panik, sebab selama ini anaknya tidak pernah berbuat neko-neko. “Anak saya itu katutan (ikut-ikutan) orang dia ini sehari-harinya kerja,” kata SM.
Dari cerita anaknya, bahwa benar diajak teman-temannya ngopi dan hanya ikut mengantar saja ke Perumahan Widengan tanpa tahu permasalahan yang terjadi. “Pokok permasalahannya ya itu temannya gak tahu siapa, lah anak saya kena sasaran,” ucapnya.
Saat ditanya bagaimana tindak lanjut setelah dipulangkan ini, SM selaku ibunya berharap agar anaknya tidak ikut-ikutan lagi sama teman-temannya.
“Yang pasti akan saya tuturi pak, biar kapok gak sama temannya lagi,” tutup dia. [ayu/aje]






