Pasuruan (beritajatim.com) – Sektor pertanian di Kabupaten Pasuruan tengah menghadapi tantangan berat akibat cuaca ekstrem yang memicu banjir di area persawahan produktif. Berdasarkan data periode 16–27 Maret 2026, tercatat luasan lahan yang tergenang mencapai ratusan hektare di wilayah timur kabupaten.
Kecamatan Rejoso menjadi titik paling krusial dengan sebaran dampak yang merata di tujuh desa penyangga pangan. Para petani kini harus waspada mengingat tanaman padi varietas Inpari yang terdampak rata-rata masih berusia 20 hingga 80 hari setelah tanam.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan, Ainur Alfiyah, mengonfirmasi bahwa tim di lapangan telah melakukan pendataan mendalam terkait kerusakan tanaman akibat dampak perubahan iklim ini. “Laporan terbaru mencatat sebanyak 158 hektare lahan tanaman padi terendam banjir di dua kecamatan, yakni Winongan dan Rejoso,” ungkapnya pada Jumat (27/3).
Data rincian menunjukkan Desa Kawisrejo di Kecamatan Rejoso mengalami dampak terluas dengan total 38 hektare sawah yang terendam luapan air. Disusul kemudian oleh Desa Toyaning seluas 37 hektare dan Desa Kedungbako seluas 24 hektare yang juga melaporkan kondisi serupa.
Di wilayah Kecamatan Winongan, meskipun skalanya lebih kecil, sebanyak 2 hektare lahan di Desa Prodo tetap menjadi perhatian serius petugas lapangan. Upaya teknis terus dilakukan untuk memastikan sirkulasi air di area persawahan tidak merusak perakaran padi yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Ainur Alfiyah menambahkan bahwa langkah mitigasi telah dijalankan pada sebagian besar lahan guna mencegah terjadinya gagal panen atau puso. “Hingga saat ini, upaya penanganan telah dilakukan pada lahan seluas 83 hektare untuk meminimalisir kerugian petani,” jelasnya saat memaparkan langkah penanggulangan.
Beruntung, hingga laporan ini diturunkan, belum ada area persawahan yang dinyatakan mengalami kerusakan permanen atau mati total. Petugas penyuluh pertanian terus melakukan pemantauan koordinat di titik-titik terdampak untuk memastikan air segera surut dan tanaman bisa diselamatkan.
Koordinasi antara dinas terkait dan kelompok tani diperkuat guna mengantisipasi fluktuasi cuaca yang masih berpotensi menimbulkan banjir susulan. Pemerintah daerah berkomitmen untuk mendampingi petani dalam menjaga stabilitas produksi pangan di tengah ancaman fenomena hidrometeorologi. (ada/kun)






