Jember (beritajatim.com) – Sebanyak 1.623 orang mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta melakukan magang di seluruh unit kerja lingkungan Kementerian Keuangan RI hingga Agustus 2021. Lima di antaranya adalah mahasiswa asing.
Hal ini disampaikan Sekertaris Jenderal Kemenkeu Heru Pambudi, dalam acara penandatanganan naskah kerjasama (Memorandum of Understanding, MoU) antara Kemenkeu dengan tiga Perguruan Tinggi Negeri (PTN), yakni Universitas Jember, Universitas Padjdjaran dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta secara daring, Jumat (3/9/2021).
Magang di Kemenkeu dibagi menjadi tiga, yakni magang mandiri, magang mikro kredensial, dan magang kerjasama. Jenis magang terakhir ini dilakukan saat ini antara Kemenkeu dengan Universitas Jember, Universitas Padjadjaran dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam sambutannya menegaskan pentingnya magang sebagai masa masa tranformasi bagi mahasiswa, dari masa belajar ke masa persiapan untuk bekerja. Masa magang menuntut rasa tanggungjawab, karena ada pelatihan dan keikursertaan [eserta magang dalam proses mengambil keputusan yang bisa berdampak bagi banyak orang.
“Artinya magang juga mendidik seseorang menjadi lebih dewasa. Sementara bagi Kemenkeu, melaksanakan program magang juga berarti menerima masukan dan inovasi baru. Artinya magang menjadi kegiatan yang menguntungkan semua pihak,” kata Mulyani, sebagaimana dilansir Humas Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (4/9/2021).
[berita-terkait number=”4″ tag=”unej”]
Menkeu tak hanya mempersilakan mahasiswa untuk magang, tapi juga dosen Universitas Jember. Sri Mulyani ingin agar Kementerian Keuangan menjadi destinasi belajar dalam rangka menyukseskan program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang sudah digagas kementerian Pendidikan kebudayaan Riset dan Teknologi.
Mulyani ingin warga Indonesia semakin banyak yang tahu dan paham bagaimana keuangan negara diatur dan dijalankan untuk kemakmuran bangsa. “Saya ingin agar tercipta sebuah pemahaman dasar atau basic understanding, khususnya di kalangan generasi milenial mengenai bagaimana kami sebagai bendahara negara mengolah pendapatan negara, mengalokasikannya, apa saja kebijakan yang dihasilkan serta menjaga prosesnya tetap transparan sekaligus akuntabel,” katanya.
Generasi milenial menjadi target Kemenkeu karena sudah mengenal teknologi informasi dankomunikasi (TIK) sejak dini. Keunggulan inilah yang diharapkan Mulyani mampu berperan serta dalam pembangunan sesuai kapasitas masing-masing.
“Tentu dengan cara-cara dan pendekatan yang menyesuaikan dengan karakteristik mereka. Termasuk adanya program MBKM memberikan kesempatan bagi generasi millenial untuk belajar tidak hanya di kampus, namun juga di luar kampus,” kata Mulyani. [wir/ted]






