Peristiwa

Debit Air di Lereng Bromo Menyusut Saat Memasuki Kemarau

 Dokumentasi pemandu wisata/untung (ist)

Malang (beritajatim.com) – Debit air di lereng Gunung Bromo menyusut saat mulai memasuki musim kemarau saat ini. Para petani di kawasan Desa Gubuk Klakah, Poncokusumo, Malang, diminta untuk mengurangi penggunaan air untuk lahan pertanian.

Kepala Desa Gubuk Klakah, Ngadiono mengatakan sumber air mengecil petani diimbau jangan menanam sayur terlebih dahulu. Untuk sementara ini warga desa Gubuk Klakah mengambil sumber air dari Coban Pelangi, di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

“Air jelas tidak mencukupi untuk sayur mayur. Petani jangan tanam sayur dulu. Kita mengandalkan tiga sumber air, tapi debit salah satu sumber sudah menyusut drastis. Jadi kita sepakat untuk penghematan air,” kata Ngadiono, Sabtu, (29/6/2019).

Ngadiono mengatakan sumber air yang ada digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum, memasak, mandi, cuci dan kakus. Sedangkan keperluan pengairan untuk perkebunan apel dan hortikultura diambilkan dari sumber air di Coban Pelangi.

“Harus disepakati bersama. Karena tanaman apel milik warga sudah mulai berkembang dua bulan lagi sudah panen. Fenomena frost tidak sampai di desa jadi tidak menggangu tanaman apel. Suhu masih normal sekitar 11 sampai 20 derajat celcius,” tandasnya.

Sementara itu, luas lahan pertanian mencapai 384 hektare, terdiri dari 100 hektare tanaman apel, 150 hektare tanaman sayur mayur dan sisanya ditanamai aneka jenis tanaman hortikultura. (luc/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar