Malang (beritajatim.com) – Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), dr. Yusrin Aulia, Sp.KJ., menjelaskan bahwa istilah man flu kerap muncul di tengah masyarakat. Man flu biasa digunakan untuk melabeli kaum pria yang mendadak terlihat sangat lemas dan tak berdaya ketika terserang flu, pilek, atau demam ringan.
Kondisi man flu, kata dr. Yusrin, acap kali dijadikan bahan gurauan. Ini rupanya bukan sekadar aksi melebih-lebihkan gejala, melainkan memiliki keterkaitan erat dengan aspek biologis, psikologis, hingga tekanan sosial. Namun, man flu sejatinya sebutan populer di ruang publik, bukan sebuah terminologi diagnosis medis formal.
“Reaksi fisik sebagian pria saat terinfeksi memang bisa tampak lebih kentara ketimbang perempuan, meski hal itu tidak serta-merta berlaku merata pada setiap pria,” ujar dr. Yusrin Aulia, Sp.KJ.
Meski begitu, ia menilai laki-laki saat mengalami flu, demam, atau infeksi saluran napas lainnya, memang terlihat lebih dramatis dan lebih berat dibandingkan perempuan. Ini memang terjadi pada sebagian orang, tetapi tidak bisa dikatakan pasti terjadi pada laki-laki.
Meninjau sudut pandang biologis, perbedaan hormonal antara laki-laki dan perempuan memiliki andil terhadap respons daya tahan tubuh. Hormon testosteron pada pria mempunyai sifat imunomodulator yang dapat sedikit meredam kerja sistem imun.
Hal itu berbanding terbalik dengan estrogen pada tubuh perempuan yang cenderung mendongkrak ketahanan imun. Kendati begitu, dr. Yusrin menekankan bahwa reaksi imun tubuh manusia tidak semata bertumpu pada kadar hormon.
“Testosteron pada pria memang bisa sedikit menekan respons imun, sedangkan estrogen pada wanita dapat meningkatkan respons imun. Tetapi tidak sesederhana itu. Respons tubuh juga dipengaruhi jenis virus atau bakteri yang menyerang dan berbagai faktor lainnya,” ungkap dokter spesialis kedokteran jiwa Rumah Sakit UMM tersebut.
Selain faktor biologis, cara pandang terhadap rasa sakit turut memicu fenomena ini. dr. Yusrin menilai banyak pria terbiasa menjaga citra diri agar senantiasa terlihat tangguh di lingkungan sosial. Konstruksi maskulinitas ini membuat mereka kerap menyepelekan gejala-gejala awal penyakit, sehingga pertahanan fisik runtuh secara tiba-tiba ketika beban sakit kian menumpuk.
“Laki-laki biasanya cenderung ingin terlihat kuat. Gejala yang sedikit sering diabaikan. Ketika akhirnya sakit benar-benar terasa, kondisinya bisa tampak seperti langsung sangat drop,” lanjutnya.
Kecenderungan mengabaikan keluhan sejak dini dan menunda istirahat pada akhirnya memperparah kondisi tubuh. Karena itu, ia mengimbau para pria untuk mengesampingkan rasa gengsi dan segera rehat begitu badan mulai terasa tidak nyaman.
Bila keluhan tergolong ringan seperti batuk dan pilek biasa, perawatan mandiri dapat ditempuh lewat istirahat cukup, menjaga asupan cairan tubuh, serta meminum obat bebas seperti parasetamol sesuai petunjuk pemakaian.
Akan tetapi, penanganan medis tidak boleh diabaikan apabila kondisi tubuh tak kunjung pulih, memburuk, atau mulai melumpuhkan aktivitas normal harian.
“Kalau sudah demam terus-menerus, sangat lemas, tidak bisa beraktivitas, nafsu makan menurun, sesak atau sulit bernapas, sebaiknya segera ke dokter. Tidak harus menunggu tiga hari,” tutur dr. Yusrin dengan tegas.
Ia mengingatkan bahwa jatuh sakit adalah hal manusiawi dan bukan indikator kelemahan seseorang. Memahami batas ketahanan fisik dan meluangkan waktu beristirahat justru mencerminkan sikap tanggung jawab terhadap kesehatan diri.
“Tidak perlu malu atau gengsi untuk mengatakan sedang tidak enak badan dan membutuhkan istirahat. Sakit bisa datang kepada siapa saja dan bukan berarti laki-laki yang sakit itu lemah,” ujarnya mengakhiri. (dan/kun)






