Jember (beritajatim.com) – Budayawan dan penyair asal Madura, Zawawi Imron, ingin para pemimpin Indonesia memiliki kecerdasan berbahasa yang inspiratif sebagaimana halnya Presiden Soekarno.
“Bung Karno dulu kalau ngomong: ‘Saudara-Saudara sebangsa setanah air, seorang penyair kita Chairil Anwar namanya mengataken ‘aku ingin hidup seribu tahun lagi. Aku kagum pada kalimat ini, Saudara. Soekarno juga ingin hidup seribu tahun. Tapi mana mungkin. Seratus tahun saja belum mungkin. Walaupun demikian cita-cita kemerdekaan yang kutanamkan di hati bangsaku, di hati rakyatku, hakkul yakin akan hidup seribu tahun’,” kata Zawawi, usai menghadiri acara orasi budaya di kampus Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (20/6/2023).
“Itu artinya kata-kata yang tidak sekadar formal, tapi mampu memotivasi kehausan atau dahaga masyarakat yang memang membutuhkan kalimat-kalimat yang inspiratif dari para pemimpin. Saya tidak mengkritik. Tapi saya hanya menyarankan adanya bahasa-bahasa yang inspiratif dan penuh hikmah dari para pemimpin,” kata Zawawi.
Penulis puisi ‘Ibu’ ini menilai saat ini bahasa sekadar alat komunikasi. “Yang saya inginkan adalah bahasa sebagai penyambung rasa keindahan antara yang satu dengan yang lain. Jadi kalau seorang sakit, seorang yang satu punya rasa simpati (mengatakan): yang tertusuk padamu berdarah padaku,” kata Zawawi.
“Kalau bertengkar begini bagaimana bisa menyelesaikan masalah? Antar pemimpin yang satu dengan yang lain bertengkar terus. Sementara sesama petani tidak pernah bertengkar,” kata Zawawi.
Generasi muda saat ini sering mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris saat berkomunikasi. Zawawi berpendapat saat ini perlu ada karya-karya tulis yang menarik anak-anak muda, sehingga tidak meninggalkan identitas keindonesiaan.
“Silakan mengadopsi bahasa asing kalau sangat perlu. Toh istilah proklamasi bukan bahasa Melayu, tapi kita pakai karena sangat dibutuhkan. Mungkin anak-anak kita itu, generasi milenial memang membutuhkan ketika bahasa yang kita pakai sudah kehilangan ruh. Dibutuhkan bahasa menjadi segar kembali. Jadi pengalaman ini bisa menyegarkan bahasa,” katanya.
Zawawi yakin eksperimen berbahasa yang dilakukan anak-anak muda bisa menyegarkan bahasa Indonesia, jika mereka diajak berpartisipasi membenahi negara. “Jangan dilepas. Harus kita ajak komunikasi,” katanya.
Zawawi juga meminta agar penggunaan bahasa kebohongan (hoaks) yang sekarang berseliweran dalam arena komunikasi publik dihentikan. “Kalau berbahaya, harus dihentikan. Harus ada semacam sinyal yang mengatakan bahwa kalimat-kalimat (hoaks) itu berbahaya,” katanya. [wir]






