Yogyakarta (beritajatim.com) – Cuaca panas ekstrem yang terjadi di Yogyakarta belakangan ini menimbulkan berbagai kekhawatiran dan dampak. Termasuk masalah kesehatan seperti peningkatan kasus ISPA, penyakit kulit, dan cacar air. Selain itu, perlu diwaspadai juga potensi gelombang laut tinggi.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan Peringatan Dini terkait potensi gelombang laut tinggi di Perairan Yogyakarta. Prakiraan gelombang laut tersebut berkisar antara 2.5 hingga 4.0 meter, atau masuk dalam kategori tinggi, yang terjadi selama cuaca ekstrem.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menyampaikan bahwa hingga saat ini masyarakat Yogyakarta masih mengalami cuaca panas ekstrem, dengan suhu udara yang mencapai hampir 34 derajat Celsius. BMKG memperkirakan bahwa suhu udara di Yogyakarta akan tetap tinggi hingga akhir Oktober.
“Sejak Jumat pekan kemarin memang ada peningkatan suhu 1 derajat Celcius dari hari sebelumnya yang berkisar sekitar 32 derajat Celcius,” jelas Reni Kraningtyas.
Suhu udara yang tinggi ini telah dirasakan selama dua pekan terakhir, dan pada Jumat lalu mencapai puncaknya dengan hampir 34 derajat Celsius. Faktor seperti musim kemarau dan fenomena El Nino telah membuat iklim menjadi lebih kering dari biasanya, dengan sedikit atau bahkan tidak ada hujan.
Selain panas, sinar matahari yang terik juga menjadi masalah karena awan-awan hujan jarang terlihat. Kelembaban udara berkisar antara 55 hingga 95 persen, dan angin bertiup dari Timur ke Selatan dengan kecepatan maksimum 24 km/jam.
BACA JUGA:
Harga Beras Merangkak Naik di Bantul Yogyakarta
BMKG juga memperingatkan tentang potensi cuaca ekstrem selama periode peralihan musim pada akhir Oktober hingga pertengahan November, termasuk hujan lebat, angin kencang, puting beliung, dan bahkan hujan es. Oleh karena itu, penting untuk melakukan langkah-langkah mitigasi bencana seperti pemangkasan pohon dan membersihkan saluran air untuk menghadapi potensi cuaca buruk ini. [aje/but]






