RINGKASAN BERITA:
- Kelelahan fisik dan suhu ekstrem 43 derajat Celsius di Makkah memicu risiko disorientasi akut pada jemaah lansia.
- Gejala ditandai dengan kebingungan mengenali waktu, lokasi, orang sekitar, hingga lupa arah pulang ke hotel.
- Langkah penanganan dini wajib dilakukan melalui reorientasi persuasif serta pemberian rehidrasi oralit secara berkala.
- Jemaah diimbau rutin mengonsumsi air 200 cc per jam dan membatasi ibadah sunnah berulang demi menjaga stamina.
Makkah (beritajatim.com) – Jemaah haji lanjut usia (lansia) Indonesia di Makkah diimbau untuk mewaspadai gejala disorientasi akut atau kebingungan mental yang dipicu oleh kelelahan fisik dan paparan suhu ekstrem. Kondisi psikis ini memerlukan penanganan cepat berupa reorientasi ingatan dan rehidrasi cairan tubuh agar tidak memperburuk kondisi kesehatan jemaah menjelang fase puncak Armuzna.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, hingga pertengahan Mei 2026 ini, pergerakan jemaah gelombang pertama dan kedua kian memadati Kota Makkah dengan total kedatangan nasional yang telah menembus 158.978 orang. Di tengah cuaca menyengat yang mencapai suhu 43 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan rendah hanya 16 persen, ketahanan mental jemaah risiko tinggi (risti) kini menjadi perhatian serius tim medis di lapangan.
Dokter Spesialis Jiwa di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, dr. Rismayanti, Sp.KJ, menjelaskan bahwa perubahan lingkungan yang drastis menjadi faktor utama yang mengganggu fungsi kognitif lansia. Beban fisik yang berat akibat perjalanan jauh dari tanah air ikut andil mempercepat munculnya gangguan orientasi tersebut.
“Karena lansia itu sangat rentan untuk terjadi disorientasi, khususnya mereka yang kelelahan fisik serta adanya lingkungan baru yang memicu hal tersebut,” kata Rismayanti saat ditemui tim Media Center Haji di KKHI Makkah.
Gejala Klinis dan Tindakan Darurat Pemulihan
Disorientasi akut biasanya bermula dari gejala yang mudah dikenali, seperti jemaah mulai bingung menentukan waktu, tidak mengenali rekan sekamar, hingga lupa arah jalan pulang menuju hotel pemondokan. Jika situasi ini dibiarkan tanpa penanganan, jemaah bisa mengalami kepanikan massal secara personal yang berujung pada penurunan kondisi fisik secara drastis.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, dr. Rismayanti menyarankan agar keluarga atau rekan satu rombongan yang mendapati gejala ini segera mengambil langkah persuasif secara tenang tanpa memicu kepanikan baru bagi jemaah yang bersangkutan.
“Lakukan reorientasi dan rehidrasi. Ingatkan lokasi mereka saat ini dengan tenang, dan berikan cairan oralit untuk menjaga keseimbangan tubuh,” ujarnya. Tindakan pendampingan yang humanis ini dinilai sangat efektif mengembalikan kesadaran ruang jemaah sebelum mereka dilaporkan ke posko kesehatan sektor.
Dehidrasi Sebagai Pintu Masuk Gangguan Psikis
Lebih lanjut, dr. Rismayanti mengingatkan bahwa karakteristik cuaca panas di Tanah Suci kerap kali mematikan reseptor atau rasa haus pada tubuh jemaah. Kondisi dehidrasi yang tidak disadari inilah yang menjadi pemicu utama menurunnya suplai oksigen dan cairan ke otak, sehingga memicu halusinasi atau kebingungan.
“Jangan menunggu haus baru minum. Jemaah dianjurkan mengonsumsi cairan setidaknya 200 cc per jam secara rutin. Dehidrasi adalah pintu masuk utama menuju disorientasi,” tegasnya.
Selain kedisiplinan hidrasi, ketua kelompok terbang (kloter) diharapkan melakukan penyaringan (screening) aktivitas bagi anggotanya. Jemaah lansia, khususnya dari Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang dikenal memiliki semangat ibadah sunnah yang tinggi, diimbau untuk membatasi pelaksanaan umrah sunnah berulang-ulang demi menjaga kebugaran fisik menjelang wukuf di Arafah pada 26 Mei mendatang.
“Jadi bisa lakukan screening kira-kira aktivitas apa yang penting yang mereka lakukan di waktu yang tepat,” jelasnya. [ian/MCH]






