Ringkasan Berita:
- Warung makan sekaligus tempat tinggal nonpermanen di samping Kantor BPJS Ketenagakerjaan Madiun terbakar Senin malam.
- Petugas Damkar mengerahkan dua mobil pemadam dan satu unit water supply untuk mengendalikan api.
- Bara masih ditemukan di tungku dapur setelah api padam sehingga titik awal kebakaran sementara diduga dari area tersebut.
- Tidak ada korban jiwa maupun luka, tetapi kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp30 juta.
Madiun (beritajatim.com) – Malam yang semestinya tenang di sekitar Kantor BPJS Ketenagakerjaan Kota Madiun berubah menjadi kepulan asap dan kobaran api. Sebuah warung makan yang juga difungsikan sebagai tempat tinggal nonpermanen di samping kantor tersebut terbakar pada Senin (31/8/2026) malam.
Kebakaran dilaporkan sekitar pukul 19.21 WIB. Informasi awal yang diterima petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Madiun bahkan menyebut adanya kebakaran lahan, bukan bangunan.
Kabid Damkar dan Penyelamatan Satpol PP dan Damkar Kota Madiun, Hengky Wahyu Setyo Wibowo, mengatakan laporan tersebut disampaikan petugas keamanan BPJS Ketenagakerjaan.
“Informasi pertama yang kami terima memang kebakaran lahan. Security BPJS yang melaporkan. Namun setelah anggota tiba, ternyata api sudah membakar warung dan bangunan tempat tinggal yang berada di samping kantor,” kata Hengky saat dikonfirmasi Senin (1/9/2026).
Petugas langsung melakukan pemadaman dan penyekatan karena bangunan yang terbakar berada sangat dekat dengan Kantor BPJS Ketenagakerjaan. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kobaran api merembet ke bangunan di sekitarnya.
Petugas tiba di lokasi sekitar pukul 19.30 WIB. Dua unit mobil pemadam dikerahkan untuk memadamkan api, sementara satu unit mobil water supply berkapasitas 10.000 liter disiapkan untuk memastikan ketersediaan air. BPBD Kota Madiun turut membantu memasok air selama proses pemadaman.
“Karena lokasinya berdekatan dengan bangunan lain, kami fokus memutus kemungkinan api merembet. Jadi begitu sampai, anggota langsung melakukan pemadaman dan penyekatan,” ujarnya.
Sebanyak 31 personel gabungan terlibat dalam penanganan kebakaran. Mereka terdiri dari 15 personel Damkar, enam personel BPBD, empat personel ambulans, dua relawan pemadam kebakaran (Redkar), satu personel PMI, dan tiga personel Dinas Perhubungan. Penanganan juga mendapat pendampingan dari personel TNI dan Polri.
Kobaran api akhirnya berhasil dikendalikan. Namun, petugas masih harus melakukan pembongkaran dan penyisiran karena terdapat bara yang tersembunyi di balik puing-puing bangunan.
Saat proses tersebut dilakukan, petugas menemukan bara yang masih menyala di area tungku tradisional. Bagian tungku juga tercatat memiliki suhu paling tinggi dibandingkan area lainnya.
“Setelah api padam, kami bongkar bagian yang terbakar untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa. Di tungku justru masih ditemukan bara. Panasnya juga paling tinggi di bagian itu,” ungkap Hengky.
Temuan tersebut membuat area tungku dapur untuk sementara diduga menjadi titik awal kebakaran. Meski demikian, Damkar belum memastikan penyebab kebakaran karena pemeriksaan lebih lanjut merupakan kewenangan kepolisian.
“Kalau melihat kondisi di lapangan, dugaan sementara titik awalnya dari tungku. Tetapi penyebab pastinya tetap menjadi kewenangan kepolisian melalui pemeriksaan dan olah TKP,” tegasnya.
Beruntung, kobaran api tidak sampai menjalar ke Kantor BPJS Ketenagakerjaan maupun bangunan lain di sekitar lokasi. Tidak ada korban jiwa ataupun warga yang mengalami luka dalam kejadian tersebut.
Sementara itu, pemilik warung harus mengalami kerugian materiil karena warung makan sekaligus tempat tinggal nonpermanen tersebut habis terbakar. Kerugian sementara ditaksir mencapai sekitar Rp30 juta.
Petugas kemudian melakukan pendinginan dan penyisiran menyeluruh di lokasi untuk memastikan tidak ada bara yang masih tersisa di antara puing-puing bangunan. Setelah proses tersebut selesai, api dipastikan tidak lagi mengancam bangunan di sekitar lokasi. [rbr/beq]






