Ngawi (beritajatim.com) – Warga Desa Sidolaju, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi membuat jembatan bambu untuk menyeberangi Bengawan Solo. Mereka membuat jembatan darurat karena perahu penyeberangan rusak sejak beberapa hari terakhir.
Perahu rusak itu sebelumnya biasa digunakan warga Dusun Sidolaju dan Desa Gembol, Kecamatan Karanganyar untuk menuju Pasar Sidolaju dan sekolah di Dusun Sidorejo. Perahu itu juga jadi sarana satu-satunya warga menyeberang ke dusun sebelah.
Tanpa perahu, warga harus memutar sejauh 8 hingga 10 Kilometer menuju jembatan terdekat. Hal itu tentu menyulitkan warga, terutama anak sekolah.
Sidarta (38), warga Desa Gembol, Kecamatan Karanganyar mengaku biasa menggunakan perahu untuk menyebrang menuju Pasar Sidolaju di Jalan Raya Ngawi-Solo. Cukup dekat, hanya satu kilometer jika perahu bisa digunakan.
“Tapi saat ini perahu rusak, banyak bocornya sehingga harus diperbaiki. Namun, perbaikan juga butuh waktu, sehingga masyarakat bikin jembatan bambu,” kata Sidarta saat ditemui di Sidolaju, Selasa (27/6/2023)

Pun, Rohim, operator perahu mengatakan jika kondisi perahu sudah tidak memungkinkan digunakan menyeberang. Karena sudah bocor di mana-mana. Jika dipaksa digunakan terus, perahu bisa tenggelam.
“Ya kapasitasnya mencapai 20 motor, kalau orang ya bisa puluhan. Tapi, kondisi perahu ini sudah tak memungkinkan. Perlu direhab dulu. Sementara, warga harus bikin jembatan. Kira-kira panjangnya 50 meter lebih. Dengan lebar 2 meter. Pakai bambu dan ini swadaya masyarakat,” kata Rohim.
Diperkirakan, jembatan itu membutuhkan 3 truk bambu atau setara dengan 1.500 batang. Saat ini, sekitar 10 orang warga menggarap jembatan tersebut. Sekitar 10 hari dibutuhkan untuk menyelesaikan jembatan bambu.
“Risikonya kalau banjir ya pasti hilang. Ya semoga tidak ada banjir ya. Sehingga masih bisa dilewati sementara perahunya diperbaiki,” pungkasnya. [fiq/beq]






