Sumenep (beritajatim.com) – Desa Basoka, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep termasuk salah satu wilayah yang kesulitan mendapatkan air bersih saat musim kemarau. Warga desa ini harus berjalan kaki cukup jauh untuk mendapatkan air bersih.
“Sudah 2 bulan ini, setiap hari kami harus berjalan kaki berkilo-kilo untuk mencari air bersih. Di desa kami memang sulit air kalau masuk musim kemarau,” kata salah satu warga Dusun Batuguluk, Desa Basoka, Kecamatan Rubaru, Abdurrahman, Jumat (27/08/2021).
Karena itu, dirinya begitu gembira ketika hari ini ada bantuan dua tangki air bersih dari Pemkab Sumenep. Bupati Sumenep, Ach. Fauzi pun turun langsung melihat droping air bersih itu. “Terima kasih pak Bupati untuk bantuan air bersihnya. Kami disini memang memerlukan air bersih untuk keperluan sehari-hari,” ujarnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”air-bersih”]
Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Abd. Rahman Riyadi menjelaskan, berdasarkan pemetaan, di Kabupaten Sumenep terdapat 30 desa yang tersebar di 10 kecamatan yang rawan kekeringan. 11 diantaranya dikategorikan sebagai daerah kering kritis, dan 19 lainnya kering langka.
“Untuk Desa Basoka ini dikategorikan desa kering kritis, yakni persediaan air per orang setiap harinya kurang dari 10 liter. Kemudian mereka harus mengambil air yang jauhnya lebih dari 3 kilometer,” paparnya.
Ia menjelaskan, karena keterbatasan armada pengiriman, maka droping air bersih untuk daerah-daerah kekeringan dijadwal sesuai permintaan yang masuk. Biasanya kepala desa akan mengajukan permintaan pengiriman air bersih ke BPBD Sumenep.
“Kemarin kami ke Desa Montorna dan Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan. Kemudian hari ini juga ada dropping air bersih kerja sama dengan pihak ketiga di Kecamatah Batuputih. Jadi setiap hari selalu ada pengiriman air bersih,” terangnya. (tem/kun)






