Sumenep (beritajatim.com) – Viral video jemaah haji laki-laki lanjut usia (lansia) yang tersesat di Mekkah. Jemaah haji tersebut diketahui berasal dari Kabupaten Sumenep.
Dalam video berdurasi 1 menit 18 detik tersebut, terlihat seorang jemaah haji mengenakan seragam batik Indonesia berjalan kaki sambil mengenakan sarung dan celana dan beralaskan sandal. Dalam video itu, terdengar percakapan dalam Bahasa Madura antara jemaah yang tersesat dengan pengambil gambar.
Dalam percakapan itu, pengambil gambar bertanya dalam Bahasa Madura, “Mau ke mana, Mbah? Kok seperti orang bingung. Ini Mekkah, Mbah, bukan Ganding.” Kemudian jemaah lansia tersebut mengatakan dirinya akan ke Manding, bukan Ganding (nama kecamatan di Sumenep).
Kemudian terdengar tawaran dari pria yang mengambil gambar, “Mari mbah, saya antarkan kembali ke hotel. Ini Mekkah Mbah, bukan Pasar Ganding. Ayo saya antar kembali ke hotel.”
Tapi nampaknya jemaah lansia ini menolak dan tidak peduli dengan tawaran untuk mengantarkan kembali ke hotel. Jemaah ini memilih untuk terus berjalan kaki sambil meyakinkan dia tidak bingung.
Baca Juga:
Kuota Jemaah Haji Sumenep Tahun 2023 Sebanyak 767 Orang
Kepala Kantor Kementerian Agama Sumenep, Chaironi Hidayat membenarkan jemaah lansia dalam video itu berasal dari Sumenep. Jemaah tersebut terpisah dari rombongan sepulang dari masjid namun sudah ditemukan oleh Ketua Kloter.
“Alhamdulillah, jemaah yang bernama Bunidin itu sudah ditemukan Ketua Kloter dan sudah kembali bergabung dengan rombongan,” terangnya, Rabu (31/5/2023).
Paska-kejadian tersebut, pihaknya berjanji memperbaiki sistem pengawasan jemaah haji. Menurutnya, untuk tahun ini, memang ada yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumya.
Tahun ini, jemaah haji satu keluarga belum tentu bisa mendampingi anggotanya yang lansia karena berbeda kloter.
Baca Juga:
Kisah Jemaah Haji Sumenep Gagal Berangkat: Rasa Malu Saya Tak Bisa Ditebus Uang Rp1 M
“Jadi memang untuk tim pendamping jemaah haji ini yang harus kerja ekstra. Harus sering-sering mengecek rombongannya, apakah ada yang terpisah atau tidak,” ujar Chaironi.
Ia juga meminta agar para jemaah dalam satu regu ikut peduli terhadap sesama anggota rombongan, Meski tidak ada ikatan keluarga. “Ini terutama untuk jemaah yang membutuhkan pengawasan ekstra seperti lansia. Yang satu rombongan, diminta kesediaannya untuk saling peduli dengan anggota yang lain. Saling mengingatkan, saling memperhatikan, supaya ibadah di tanah suci ini lancar,” ucapnya. [tem/beq]






