Ringkasan Berita:
- Tim dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar pelatihan teknologi asistif di SDN Kedungdalem 2, Kabupaten Probolinggo, pada 28 September 2026.
- Sebanyak 20 peserta mendapat materi tentang karakteristik anak berkebutuhan khusus, asesmen awal, strategi pendampingan, dan pembelajaran adaptif.
- Teknologi asistif diperkenalkan sebagai sarana untuk membantu peserta didik mengatasi hambatan dalam mengakses informasi, berkomunikasi, dan mengikuti pembelajaran.
- Pelatihan menekankan pentingnya kompetensi, empati, dan pemahaman guru terhadap kebutuhan individual setiap anak dalam mendukung pendidikan inklusif.
Probolinggo (beritajatim.com) – Penguatan kompetensi guru menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan pendidikan inklusif yang mampu mengakomodasi kebutuhan setiap anak. Untuk mendukung upaya tersebut, tim dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar Pelatihan Teknologi Asistif di Sekolah Inklusif di SDN Kedungdalem 2, Kabupaten Probolinggo, Senin (28/9/2026).
Pelatihan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 11.30 WIB itu diikuti 20 peserta. Kegiatan ini membekali pendidik dengan pemahaman mengenai karakteristik anak berkebutuhan khusus (ABK), asesmen awal, strategi pendampingan, hingga pengelolaan pembelajaran yang adaptif terhadap keberagaman kemampuan peserta didik.
Tim dosen Unesa menempatkan teknologi asistif sebagai salah satu sarana untuk membantu anak mengatasi hambatan dalam proses belajar. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut perlu disertai pemahaman guru terhadap kebutuhan individual peserta didik agar dukungan yang diberikan tepat sasaran.
Acep Ovel Novari Beny, M.Pd., yang bertindak sebagai narasumber sekaligus ketua tim pelaksana, memaparkan berbagai tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. Materi pelatihan tidak hanya membahas penggunaan teknologi asistif, tetapi juga mencakup identifikasi kebutuhan belajar dan pemilihan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi masing-masing anak.
Salah satu materi utama adalah kemampuan melakukan identifikasi dan asesmen awal. Keterampilan ini diperlukan agar guru dapat mengenali indikasi kebutuhan khusus, memahami hambatan yang dihadapi peserta didik, serta memetakan potensi yang dapat dikembangkan.
Asesmen awal juga menjadi dasar bagi pendidik untuk menentukan bentuk dukungan dan penyesuaian pembelajaran. Meski demikian, identifikasi oleh guru tidak dimaksudkan untuk menetapkan diagnosis medis atau kondisi tertentu. Pemeriksaan dan penetapan diagnosis tetap menjadi kewenangan tenaga profesional yang kompeten.
Selain kemampuan mengenali kebutuhan belajar, guru perlu memahami cara mendampingi anak berkebutuhan khusus dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Pendampingan tidak cukup hanya dengan memberikan perhatian lebih, tetapi juga harus mempertimbangkan kemampuan komunikasi, perkembangan sosial-emosional, kebutuhan individual, dan tingkat kemandirian anak.
Lingkungan belajar yang aman dan nyaman juga menjadi bagian penting dari pendidikan inklusif. Interaksi yang positif antara guru dan peserta didik diharapkan dapat membantu anak merasa diterima, sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran bersama teman-temannya.
Pengelolaan pembelajaran menjadi perhatian lain dalam pelatihan tersebut. Setiap peserta didik memiliki kecepatan, gaya, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Karena itu, penerapan metode pembelajaran yang seragam belum tentu mampu memenuhi kebutuhan seluruh anak.
Guru perlu menyesuaikan metode mengajar, media pembelajaran, aktivitas kelas, hingga bentuk penilaian. Dengan pendekatan yang lebih fleksibel, peserta didik diharapkan memperoleh kesempatan untuk mengikuti proses belajar dan menunjukkan perkembangan sesuai kemampuan masing-masing.
Dalam konteks tersebut, teknologi asistif dapat digunakan untuk membantu anak mengakses informasi, memahami instruksi, berkomunikasi, dan mengikuti kegiatan belajar. Bentuknya dapat berupa perangkat, media pembelajaran, maupun aplikasi yang dirancang untuk mengurangi hambatan belajar.
Pemanfaatan teknologi asistif tidak selalu harus mengandalkan perangkat canggih atau berbiaya tinggi. Hal yang lebih penting adalah kesesuaian alat atau media dengan kebutuhan nyata peserta didik serta kemampuan guru mengintegrasikannya dalam kegiatan pembelajaran.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena penerapan pendidikan inklusif tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas. Kesiapan pendidik dalam memahami karakteristik anak dan menentukan bentuk dukungan yang tepat turut memengaruhi kesempatan peserta didik untuk berkembang di lingkungan sekolah.
Pelatihan ini juga menekankan pentingnya empati dan penerimaan terhadap anak berkebutuhan khusus. Perbedaan kemampuan maupun hambatan perkembangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi hak anak dalam memperoleh pendidikan, berinteraksi dengan lingkungan, dan mengembangkan potensi diri.
Dengan demikian, pendidikan inklusif bukan sekadar persoalan metode mengajar atau penggunaan teknologi. Sikap pendidik dalam memperlakukan setiap anak juga menjadi fondasi untuk membangun sekolah yang memberikan ruang belajar secara adil, tanpa mengabaikan kebutuhan individual.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim dosen Unesa yang diketuai Acep Ovel Novari Beny, M.Pd. Tim ini juga beranggotakan Muhammad Kholid Ni’amul Ludfi, M.Pd., Gr., Monica Widyaswari, M.Pd., serta Fatiha Khoirunnisa Elfahmi, S.Pd., M.Ed., M.Pd.
Melalui pelatihan yang diikuti 20 peserta tersebut, tim dosen Unesa berharap pendidik semakin siap melakukan asesmen awal, menyusun strategi pendampingan, mengelola pembelajaran adaptif, dan memanfaatkan teknologi asistif sesuai kebutuhan peserta didik.
Penguatan kompetensi guru ini diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas layanan pendidikan inklusif di Kabupaten Probolinggo. Ke depan, penerapan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan belajar sehari-hari menjadi bagian penting agar manfaat pelatihan dapat dirasakan langsung oleh peserta didik.
Keberhasilan pendidikan inklusif pada akhirnya tidak diukur dari keseragaman hasil belajar seluruh anak, melainkan dari kemampuan sekolah menyediakan dukungan yang memungkinkan setiap peserta didik berkembang sesuai potensinya. Teknologi asistif dapat membantu membuka akses, tetapi pemahaman, empati, dan kesiapan guru tetap menjadi unsur penting dalam memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang setara. [fiq/beq]






