Surabaya (beritajatim.com) – Pusat Halal Universitas Airlangga (Unair) mendorong percepatan ekosistem sertifikasi halal nasional. Langkah ini ditempuh melalui kolaborasi lintas sektor dan inovasi riset kampus.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Konferensi Halal Nasional Riset dan Inovasi Airlangga 2026. Forum ini mempertemukan berbagai pegiat halal dari Pulau Jawa, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara.
“Untuk percepatan sertifikasi halal di Indonesia itu harus melibatkan banyak pihak. Kalau mengandalkan kami sendiri, Pusat Halal Unair, tidak bisa,” ujar Ketua Pusat Halal Unair, Dr. Abdul Rahem, Kamis (30/7/2026).
Kebutuhan jaminan produk dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) kini makin meluas. Aturan yang mengikat pelaku usaha tidak lagi sebatas menyasar produk makanan dan minuman.
“Sekarang semua termasuk barang gunaan, kosmetik, dan obat. Termasuk jasa penyembelihan, apalagi pihak BPJPH menjelaskannya sangat menyeluruh,” katanya.
Menjawab tantangan tersebut, Unair memaksimalkan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sektor pendidikan difokuskan untuk mencetak tenaga auditor dan penyelia yang sangat kompeten.
“Pendidikan itu bisa masuk dalam kurikulum pembelajaran. Kami rutin mengadakan pelatihan dan mengeluarkan sertifikat kompetensi lewat Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP),” imbuh Rahem.
Pada bidang penelitian, tim akademisi sukses mengkaji berbagai material substitusi aman. Bahan alternatif ini diciptakan untuk menekan penggunaan material turunan babi pada industri medis.
“Rumput laut sudah menjadi pengganti gelatin untuk cangkang kapsul. Tulang sapi bersertifikat halal kini dipakai untuk sambungan patah tulang dan pasta gigi,” paparnya.
Inovasi riset unggulan lainnya adalah pengembangan formula vaksin Inavac. Produk penangkal virus tersebut menjadi satu-satunya vaksin buatan dalam negeri yang telah terjamin kehalalannya.
“Vaksin Inavac itu satu-satunya yang bersertifikat halal di Indonesia. Itulah salah satu peran perguruan tinggi yang kami jalankan secara konsisten,” tegas pakar farmasi tersebut.
Langkah pengabdian masyarakat juga digencarkan hingga menyentuh wilayah pelosok nusantara. Peneliti aktif melatih para pelaku usaha mikro agar mampu mendeklarasikan produk secara mandiri.
“Di Sikka (NTT) hanya ada dua pendamping, akhirnya kami turun ke sana. Kami juga mengedukasi warga mengolah bahan limbah menjadi sabun kosmetik halal,” pungkasnya. [ipl/kun]






