Magetan (beritajatim.com) – Seorang tukang pijat tunanetra Magetan naik haji. Dia adalah Mohammad Soleh, asal Desa Kuwon Kecamatan Karas Kabupaten Magetan berusia 77 tahun. Mohammad Soleh berangkat haji bersama sang istri, Putinah, usai menunggu selama 12 tahun.
Soleh bercerita, jika awalnya dia merupakan cadangan di tahun ini. Namun, seminggu menjelang keberangkatan dia dikabari untuk bersiap untuk berangkat. Soleh mengaku mendaftar haji pada 2011 saat empat anaknya sudah selesai kuliah. Pun niatan untuk ingin naik haji sudah ada sejak anak-anaknya masih sekolah
“Anak saya ada empat, seharusnya enam yang dua sudah meninggal. Saat anak-anak masih sekolah, timbul niatan dalam hati saya saat anak-anak sudah mentas semua, jika tanah yang saya punya masih ada, saya akan menjualnya untuk daftar haji,” kata Soleh saat berada di Asrama Haji Surabaya, Selasa (30/05/2023) .
Dia bersyukur, saat anaknya selesai kuliah, dia masih punya sebidang tanah. Tanah itu akhirnya laku terjual. Namun, saat itu duitnya belum cukup untuk digunakan mendaftar haji. Sehingga, dia memilih untuk meminjam dana talangan haji.
Dia mengakui bahwa tidak tuna netra sejak lahir. Tepatnya pada 46 tahun lalu, Soleh kehilangan penglihatan karena kecelakaan. “Saya coba dengan menempelkan bola lampu, mungkin ada kabelnya yang salah, Tiba-tiba meledak kena dua mata saya. Kedua mata saya rusak parah hingga sampai saat ini saya tidak bisa melihat lagi,”kenangnya.
Karena musibah itu, Soleh yang sebelumnya bekerja sebagai petani tidak bisa bekerja lagi. Sang istri, Putinah mau tidak mau saat itu harus menjadi tulang punggung untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarga. “Saya bekerja serabutan seadanya mulai dari bertani hingga buruh pabrik tebu. Pokok ada pekerjaan halal saya mau yang penting dapat uang untuk biaya kebutuhan, ” tuturnya mengenang masa-masa sulit.
Setelah sekian lama tidak bekerja, Mbah Soleh mendapat kesempatan belajar memijat. Berbekal ilmu memijat, mbah Soleh sering mendapat panggilan untuk memijat. “Kalau pijat capek biasa, saya tidak melayani. Saya memijat pasien yang sakit seperti panas, batuk-batuk dan sejenisnya,” kata Soleh.
BACA JUGA:
Tukang Pijat Asal Lamongan Naik Haji Setelah 30 Tahun Menabung
Di usianya yang sudah uzur inipun, Mbah Soleh masih mampu memijat pasien-pasiennya. Karena banyak orang yang minta tolong untuk memijat, Soleh bisa membiayai anak-anaknya kuliah bahkan membeli tanah.
Sementara, Imam Subakti Plt Kasi Haji dan Umrah Kemenag Magetan menerangkan jika tunanetra yang berangkat haji tahun ini tidak hanya Soleh. “Untuk Magetan, ada dua tunanetra yang berangkat haji. Yakni, atas nama Pak Soleh, kemudian juga Bapak Djoko Pramono Tjahco usia 72 tahun, warga Kelurahan Kepolorejo Kecamatan/Kabupaten Magetan,” kata Imam. [fiq/kun]






