Gresik (beritajatim.com) – Imbas adanya pandemi Covid-19 yang belum berakhir hingga saat ini, tradisi turun temurun kupatan di Kampung Kauman, Kelurahan Pekauman, Gresik digelar dengan protokol kesehatan (Prokes) yang ketat.
Berdasarkan surat imbauan nomor 050/49/437.101.14/2021 yang ditandatangani oleh Lurah Pekauman, ada beberapa poin kegiatan kupatan ini yang wajib dipatuhi. Pertama, setiap warga wajib melakukan pembatasan jumlah tamu. Hanya dikhususkan untuk keluarga/warga Pekauman. Berikutnya, pembatasan kegiatan kupatan maksimal hingga pukul 21.00 WIB.
Selain itu, dalam tradisi kupatan tersebut mewajibkan tamu dan penerima tamu mengenakan masker serta menjaga jarak, atau tidak berkerumun. Di setiap sudut rumah wajib disediakan sarana cuci tangan, dan hands sanitizer.
Salah satu tokoh masyarakat Kampung Kauman Gresik, Bairut menuturkan, pembatasan perayaan kupatan ini dilakukan usai ada rapat kordinasi antara lembaga serta tokoh masyarakat.
“Ini adalah tradisi turun temurun meski ada pandemi Covid-19. Warga diminta tetap mengedepankan prokes dengan ketat sesuai himbauan dari pemerintah daerah,” tuturnya, Rabu (19/05/2021).
Hal senada juga dikatakan Nafik Udin pemuda asal Kampung Kauman. Dirinya sudah diberi imbauan agar tetap menjalankan prokes.
“Lurah Pekauman sudah mengeluarkan surat himbauan kepada warga agar tidak lengah mengingat pandemi belum berakhir,” katanya.
Lebaran kupatan merupakan tradisi turun temurun, dan sudah sangat melekat di kalangan masyarakat Kampung Kauman. Tradisi ini diperkenalkan oleh ulama bernama Kiai Baka yang masih keturunan Sunan Giri.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gresik”]
Kiai tersebut meminta santrinya agar mengikuti sunah rasul dengan berpuasa Syawal selama enam hari usai Hari Raya Idul Fitri. Sedangkan nama Kauman merupakan nama di sejumlah daerah yang mayoritasnya warga muslim. Pasalnya, Kampung Kauman identik berdekatan dengan alun-alun serta ditandai adanya masjid. Kata Kauman berasal dari ‘Kaum Imam’.
Warga setempat memiliki tradisi merayakaan Hari Raya Idul Fitri dengan menunda perayaan Lebaran dan baru melakukannya pada 8 Syawal. Bedanya mereka melakukan halal bihalal untuk saling bermaaf-maafan ke rumah saudara, kerabat atau sahabat bersamaan dengan Lebaran Ketupat. [dny/but]






