Blitar (beritajatim.com) – Puluhan wartawan hari ini melakukan aksi unjuk rasa di depan pendopo Ronggo Hadi Negero (RHN) jalan Semeru Kota Blitar. Aksi damai ini sebagai buntut atas arogansi tim khusus Bupati Blitar, Rini Syarifah terhadap wartawan yang bertugas.
Diketahui Bupati Blitar selalu memiliki tim khusus saat bertugas baik itu dari Kominfo, Protokol hingga Ajudan Pribadi. Sayangnya tim khusus ini sering kali mengintimidasi wartawan yang sedang bertugas, mulai dari tidak boleh bertanya di luar kegiatan yang dilakukan Bupati hingga kontak fisik berupa penarikan baju atau penghadangan.
April salah satu wartawan media lokal Blitar menjadi korban arogansi tim khusus Bupati Blitar. Peristiwa itu terjadi pada bulan Januari 2023 lalu, saat itu April yang sedang bertugas meliput penyerahan bonus atlet PON dilarang oleh khusus Mak Rini untuk bertanya di luar konteks.
Meski dilarang, namun wartawan perempuan tersebut tetap nekat bertanya diluar konteks ke Bupati Blitar Rini Syarifah. Tidak disangka April mendapatkan perlakukan kasar dari Tim Khusus Rini Syarifah berupa penarikan baju.
“Jadi waktu itu saya sudah dipesan jangan bertanya aneh-aneh, namun saya nekat karena kantor butuh wawancara konteks lain kepada Bupati, tiba-tiba saja dari belakang salah satu ajudan atau tim khususnya menarik baju saya sembari bilang sudah-sudah jangan tanya aneh-aneh,” cerita April, Jumat (25/8/2023).
Pelarang itu kembali terulang pada acara Edukasi dan intervensi stunting di Kabupaten Blitar yang digelar oleh BKKBN, selasa (23/8/2023). Saat itu sejumlah wartawan ditelepon oleh tim Khusus Mak Rini dari Kominfo yang menyampaikan pesan agar tidak bertanya diluar konteks acara sosialisasi stunting.
BACA JUGA:
Dianiaya Rekan Sekelas, Siswa MTs di Blitar Meninggal Dunia
Karena waktu itu para jurnalis membutuhkan statmen Bupati terkait mundurnya sang wakil, akhirnya para wartawan tetap bertanya ke Rini Syarifah di luar konteks acara. Sekali lagi juga para protokol yang ada di lokasi langsung menghadang para wartawan yang bertanya.
“Iya waktu di kampung Coklat itu saya juga diminta untuk tidak bertanya selain acara, tapi saya menolak, soalnya udah hafal dengan hal itu,” ungkap April.
Aksi penghalang-halangan ini sudah terjadi sejak dulu. Bahkan sejak awal Bupati Blitar Rini Syarifah menjabat. Melihat kondisi itu, para wartawan pun mengungkapkan kekecewaannya.
BACA JUGA:
Pria di Blitar Terjaring OTT Jual Beli Kawasan Hutan Negara
Pada Jumat (25/8/2023), puluhan wartawan pun turun ke jalan menuntut adanya perubahan. Dalam aksinya ini ada beberapa tuntutan wartawan yang ditujukan ke Bupati Blitar. Berikut sejumlah tuntutan tersebut :
– Bupati Blitar Rini Syarifah telah membiarkan terselenggaranya protokoler yang menghambat atau pun menghalangi wartawan dalam menjalankan tugas.
– Bupati Blitar Rini Syarifah seolah lupa menduduki poisisi sebagai pejabat publik, kepala daerah, penanggungjawab anggaran pemerintah daerah, berkewajiban menjelaskan kebijakan-kebijakan yang diambil sebagai implementasi .
– Sebagai kepala daerah bupati blitar seharusnya membuka lebar pintu komunikasi dengan publik terkait dinamika sosial yang terjadi di wilayah Kabupaten Blitar.
Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Blitar, Herman Widodo yang mendatangi aksi unjuk rasa mengaku pihaknya dapat memahami apa yang disampaikan oleh wartawan. Herman memastikan akan meneruskan aspirasi wartawan pada Bupati Blitar.
“Tentu tidak ada niat kami dan Ibu Bupati untuk menghalang-halangi kerja rekan-rekan jurnalis. Kami akan sampaikan kepada pimpinan apa yang menjadi aspirasi rekan-rekan,” ujarnya. [owi/beq]






