Surabaya (beritajatim.com) – Mungkin kebanyakan orang menganggap bahwa sikap produktif itu melulu hal yang baik. Padahal, kenyataannya tidak semua demikian. Produktivitas diri yang terlalu berlebihan justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Selain itu juga dapat menganggu aktivitas harian lainnya.
Toxic productivity sendiri merupakan tindakan melakukan hal-hal produktif dalam satu waktu sekaligus. Bahkan, seseorang bisa melakukannya tanpa henti atau terus menerus. Orang-orang seperti ini cenderung menyukai aktivitas secara berlebihan. Sehingga mereka tidak sadar bahwa tubuh dan otaknya juga perlu istirahat. Adapun tanda-tanda seorang alami toxic productivity, di antaranya;
Susah atur istirahat
Jika sudah terlanjur melakukan aktivitas tertentu, mereka cenderung tidak ingin berhenti untuk melakukannya. Hal ini lantaran mereka sangat menyukai hal tersebut. Yang ada dalam pikirannya ialah menyelesaikan semuanya terlebih dahulu, kemudian baru bisa berhenti. Namun, tak jarang juga yang masih ingin melanjutkan hal lain sekaligus. Sekalinya mereka beristirahat, biasanya akan timbul perasaan bersalah karena menunda-nunda waktu. Tak ayal jika mereka dikenal sebagai orang yang susah untuk atur waktu istirahat.
Berlebihan dalam aktivitas
Seseorang yang alami toxic productivity umumnya ingin melakukan semua aktivitas seketika atau dalam satu waktu. Biasanya hal ini didasari oleh pemikiran yang tidak ingin membuang-buang waktu hingga perasaan mampu untuk segera menyelesaikannya. Sehingga tak jarang mereka melupakan hal-hal kecil yang sebenarnya juga penting, seperti makan, minum, hingga istirahat.
Ekspektasi yang tidak realistis
Ekspektasi yang tidak realistis kerap ditemui pada seseorang yang alami toxic productivity. Salah satu contohnya ialah menyelesaikan belasan atau puluhan tugas dalam waktu sehari saja. Padahal, pengumpulan tugas tersebut diberi tenggang waktu selama seminggu. Hal ini dianggap tidak realistis karena ia terlalu memaksakan diri dengan ekspektasinya.
Sering merasa bersalah jika berdiam diri
Kebiasaan melakukan banyak hal dalam satu waktu, membuat seorang toxic positivity kerap merasa bersalah jika hanya berdiam diri. Padahal, ia pun tahu bahwa tugasnya telah selesai ia kerjakan semuanya dan memang waktunya untuk beristirahat. Namun, perasaan bersalah tersebut tetap saja seolah menghantuinya. Seperti ada yang kurang dan perasaan jadi tidak nyaman.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tips”]
Tidak pernah puas
Mereka yang alami toxic positivity cenderung lebih perfeksionis. Ada perasaan tidak puas yang kerap menyelimutinya. Padahal yang ia lakukan sebenarnya sudah lebih dari cukup. Misalnya mengerjakan tugas dalam waktu dua hari, sedangkan ia merasa bahwa sebenarnya hal itu bisa diselesaikan hanya dalam sehari. Hal ini kemudian membuatnya merasa tidak puas bahkan tak jarang menyesalinya.
Adapun cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi toxic positivity, di antaranya dengan menyadari bahwa ia memang mengalami tanda atau gejala tersebut. Kemudian, rubah mindset dan lakukan aktivitas yang lebih efektif dan efisien. Hal ini dapat meminimalisir aktivitas yang berat.
Selain itu, perlunya self care dan membedakan kegiatan profesional dengan pribadi. Tidak lupa untuk mempraktikkan mindfulness dan atur waktu dengan lebih baik. (fyi/ian)






