Magetan (beritajatim.com) – Tiadanya guru bimbingan dan konseling (BK) di sekolah dasar (SD) membuat permasalahan siswa tak bisa maksimal terselesaikan. Oleh karenanya, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memberikan pelatihan pada guru-guru SD di Magetan.
Ika Rahmawati, salah satu Dosen PGSD FIP Unesa memberikan pelatihan pada 40 guru SD dari seluruh wilayah Magetan di SDN Unggulan Magetan, Sabtu (16/7/2022).
Ika membeberkan pentingnya soal pelatihan bimbingan dan konseling untuk guru SD. Karena mayoritas sarjana BK masuk ke SMP dan SMA. Sehingga tak ada guru khusus yang bisa menangani siswa bermasalah di SD.

“Siswa SD tak semua tenang, anteng, dan bisa mengikuti pelajaran dengan tertib. Ada pula yang semaunya sendiri, membuat gaduh, tidak mengerjakan tugas, mengganggu teman, melamun, pasif, dan lain sebagainya. Disinilah sebenarnya sudah perlu bimbingan dan konseling agar guru tahu apa yang jadi masalah bagi siswa sehingga tidak bisa mengikuti pelajaran dengan tertib,” kata Ika pada beritajatim.com, Sabtu (16/7/2022).
Untuk itu, dirinya memberikan pelatihan berupa pemahaman karakteristik siswa di SD, pemahaman tentang siswa bermasalah di SD, serta bagaimana seorang guru SD bisa menjadi konselor bagi siswa bermasalah di SD.
[berita-terkait number=”4″ tag=”magetan”]
“Sehingga output yang kami harapkan yakni guru SD yang tadinya tak memiliki kemampuan bimbingan dan konseling bisa menjadi konselor bagi siswa bermasalah di SD. Guru bisa melakukan konseling sederhana dengan teknik GATHER,” terangnya.
Teknik GATHER yakni Greet (pembukaan), Ask (menanyakan perasaan dan pikiran), Tell (mengungkapkan info yang relevan), Help (membantu mendiskusikan alternatif solusi), Explain (menjelaskan tindak lanjut dan konsekuensi pilihan), Return (mengevaluasi dan mengakhiri).
“Kami mengharap para guru SD bisa membantu siswa mereka menyelesaikan masalah. Itulah inti dari pelatihan ini,” katanya. [fiq/but]






