Bojonegoro (beritajatim.com) – Ratusan sumur tua di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro masih bertahan hingga sekarang. Sumur minyak yang diproduksi secara tradisional oleh masyarakat setempat itu diprediksi sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
Sejumlah kelompok masyarakat melakukan aktivitas penambangan dengan menggunakan cara manual. Setiap orang memiliki perannya masing-masing. Diantaranya bertugas menarik sling untuk menimba minyak. Mereka menggunakan mesin mobil diesel untuk mengerek timba dari perut bumi.
Kemudian ada yang bertugas menuang minyak yang masih bercampur dengan lumpur dari timba. Setelah itu bagian penyulingan hingga minyak mentah itu menjadi bahan bakar siap pakai. Para penambang tradisional itu menyetor hasil produksinya ke Pertamina EP Field Cepu Zona 11 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream sebagai pemilik Wilayah Kerja (WK).
Dari hasil penambangan minyak tradisional itu mampu memproduksi sebesar 130 barel/hari. Selain wilayah pertambangan tradisional, di kawasan tersebut juga memiliki daya tarik lain, yakni sebagai kawasan wisata. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama Pertamina EP Field Cepu menjadikan ladang minyak itu sebagai kawasan wisata Geoheritage Wonocolo. [lus/but]










