Ringkasan Berita:
- Stok beras premium kemasan 5 kilogram di Pasar Bunulrejo Kota Malang mengalami kelangkaan selama tiga pekan terakhir.
- Pedagang menyebut pasokan terakhir beras premium 5 kilogram masuk pada 24 Agustus 2026, setelah itu tidak ada lagi kiriman dari distributor.
- Beras SPHP Bulog masih tersedia, namun minat pembeli rumah tangga disebut masih rendah karena sebagian besar konsumen belum beralih dari beras premium.
Malang (beritajatim.com) — Stok beras premium kemasan 5 kilogram di Pasar Bunulrejo, Kota Malang, mengalami kelangkaan dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah pedagang mengaku kesulitan mendapatkan pasokan karena distributor tidak lagi mengirimkan beras premium ukuran tersebut.
Salah satu pedagang di Pasar Bunulrejo, Supriyono, mengatakan dirinya sudah tidak menjual beras premium kemasan 5 kilogram selama sekitar tiga pekan akibat stok yang kosong. Padahal, hampir setiap hari masih ada pelanggan yang datang untuk membeli beras jenis tersebut.
“Beras premiumnya lagi kosong di pasar. Sudah 3 minggu. Kiriman terakhir tanggal 24 Agustus kemarin beras premium masuk pasar. Setelah itu tidak ada sama sekali,” kata Supriyono, Kamis (17/9/2026).
Pantauan di kios Supriyono menunjukkan hanya tersedia beras premium dengan kemasan 3 kilogram. Menurut dia, sebagian pelanggan akhirnya memilih membeli ukuran tersebut karena kemasan 5 kilogram tidak tersedia.
“Ini sisa kiriman terakhir (24 Agustus). Kalau 3 kilogram kan memang jarang-jarang peminatnya. Biasanya kencang kalau pas masa lebaran itu, buat zakat. Ini sisa 20 karung lah,” ujar Supriyono.
Supriyono menyampaikan telah berupaya mencari stok beras premium 5 kilogram dengan menghubungi sejumlah distributor maupun toko rekanan yang lebih besar. Namun, hasilnya belum menemukan pasokan baru.
“Semua distributor sudah kita hubungi, rekanan toko-toko yang lebih besar sudah kita coba hubungi dan semuanya sama tidak ada. Tidak punya stok,” tutur Supriyono.
Di sisi lain, stok beras SPHP dari Bulog disebut masih tersedia dan pasokannya tetap dijamin. Namun, menurut Supriyono, permintaan terhadap beras SPHP masih belum tinggi karena mayoritas pembeli rumah tangga belum beralih dari beras premium.
“Rata-rata dari ibu rumah tangga yang untuk dikonsumsi sendiri ini tidak mau mereka itu untuk pindah ke SPHP ini,” kata Supriyono.
Kelangkaan beras premium kemasan 5 kilogram ini membuat sebagian pedagang harus menunggu kepastian pasokan dari distributor. Sementara itu, konsumen yang membutuhkan beras premium masih harus mencari alternatif ukuran lain atau memilih jenis beras yang tersedia di pasaran. [luc/suf]






