Sorotan

Peta Politik Pilkada Kabupaten Ngawi 2020

Endra Dwiono, wartawan beritajatim.com yang bertugas di Madiun Raya

Ngawi (beritajatim.com) – Pesta demokrasi lima tahunan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Ngawi kurang lima bulan lagi. Meski tahapan Pilkada sempat terhenti karena Pandemi Covid-19, namun akhirnya Pemerintah Pusat tetap melaksanakan pada tahun ini.

Ada beberapa tahapan yang sudah disusun sebelumnya, akhirnya harus ditunda. Salah satunya tahapan pemungutan suara. Jika sebelum adanya Covid-19, akan dilaksanakan pada bulan September, kini diundur pada akhir tahun, tepanya 9 Desember 2020.

Pada Pilkada Kabupaten Ngawi tahun ini, tidak ada kejutan yang berarti. Wakil bupati yang saat ini masih menjabat, Ony Anwar dan Ketua DPRD Ngawi Dwi Rianto Jatmiko memastikan diri sebagai bakal calon bupati (bacabup) dan bakal calon wakil bupati (bacawabup) yang diusung dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Bahkan surat rekomendasi dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP sudah diteken sejak bulan Februari lalu, sebulan sebelum Indonesia mengalami pandemi Covid-19. Penyerahan surat rekom itu pun, dilakukan di kantor DPP PDIP Jakarta. Langsung diterima oleh bacabup Ony Anwar dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Praktis, selain dari dua kandidat yang sudah sepakat menjadi bacabup dan bacawabup Ngawi tersebut, nyaris tidak ada figur lain yang ingin meramaikan Pilkada Ngawi tahun ini. Alhasil, prediksi adanya calon tunggal dalam pesta demokrasi lima tahunan di Kabupaten yang berada di sisi barat Provinsi Jawa Timur itu semakin menguat.

Rekom yang sudah turun sejak Februari lalu itu, menjadikan Kabupaten Ngawi masuk kategori ring satu oleh PDIP. Artinya, bagi partai penguasa saat ini itu, Pilkada Ngawi memilik prosentase kemenangan yang cukup besar. Apalagi jika melihat perolehan suara pada pemilihan legislatif (Pileg) tahun 2019. Di bumi orek-orek (sebutan Kabupaten Ngawi), partai yang berlambang banteng moncong putih tersebut, mendapatkan 20 kursi dari 45 kursi di DPRD Kabupaten Ngawi.

Dengan mengusung Ony Anwar dan Antok (sapaan akrab Dwi Rianto Jatmiko), dimana mereka berdua juga merupakan kader PDIP, rasa-rasanya Megawati Soekarnoputri akan menasbihkan Kabupaten Ngawi sebagai kandang banteng di wilayah Mataraman.

Rekom cepat dari DPP PDIP itu, mungkin membuat beberapa partai lain yang berada di parlemen Ngawi menjadi ciut nyali. Sehingga mereka lebih memilih main aman. Secara bergantian, parpol-parpol tersebut mendeklarasikan dengan juga ikut mendukung Ony dan Antok sebagai bacabup dan bacawabup.

Partai-partai tersebut, ialah Golkar (memiliki 5 kursi), Gerindra (4 kursi), PKB (4 kursi), PKS (4 kursi), Nasdem (2 kursi), PAN (3 kursi), Demokrat (1 kursi), Hanura (1 kursi) dan PPP juga dengan 1 kursi. Dari 9 partai itu, hanya Hanura dan PPP yang belum memberikan surat resmi dukungan kepada Ony dan Antok. Namun, secara prinsip dan dukungan lisan, keduanya mendukung Ony dan Antok.

Popularitas dan elektabilitas dari Ony dan Antok sepertinya juga tidak perlu diragukan lagi. Ony Anwar yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Ngawi 2 periode, mendampingi Bupati Budi Sulistyono, atau yang akrab sapa Kanang atau Mbah Kung. Tentu pengalaman di seluk beluk pemerintahan sudah hapal di kepala. Langkah Ony yang sudah menjabat 2 periode dan kini akan macung sebagai cabup ini, mungkin juga terinspirasi dari perjalanan politik dari Kanang.

Bagaimana tidak, sebelum menjadi bupati 2 periode, Kanang ternyata dulunya juga menjabat menjadi wakil bupati selama 2 periode. Kala itu Dia mendampingi Bupati Harsono, yang tidak lain adalah bapaknya Ony Anwar.

Sementara Dwi Rianto Jatmiko atau Antok, popularitasnya di mata masyarakat Kabupaten Ngawi juga tidak kalah mentereng dari Ony Anwar. Antok yang kini menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Ngawi itu, juga menjabat Ketua DPRD Kabupaten Ngawi selama tiga periode berturut-turut.

Bahkan, dalam Pileg 2019 lalu, dirinya meraup 18.757 suara. Jumlah itulah yang mengantarkannya menjadi Ketua DPRD kembali. Selain itu, jumlah tersebut juga merupakan perolehan suara terbanyak di Pileg Ngawi 2019.

Dengan popularitas dan elektabilitas yang dimiliki oleh Ony dan Antok, tidak heran jika pada Pilkada Kabupaten Ngawi ini tidak banyak kandidat yang muncul. Mereka pasti akan berpikir – pikir ulang, jika akan melawan Ony dan Antok. Sehingga adanya calon tunggal di Pilkada Ngawi ini dipastikan terjadi.

Kini, fokus Ony dan Antok adalah membuat program-program kerja yang pro rakyat. Sehingga bisa mengambil hati rakyat, untuk memilih keduanya. Dengan catatan-catatan tersebut, rasanya untuk mendapatkan suara 50 persen plus 1 dari jumlah keseluruhan pemilih akan mudah dilakukan mereka.

Majunya Ony dan Antok ini, tentunya juga tak lepas dari peran besar dari Kanang. Dia yang juga menjabat sebagai salah satu pengurus di DPW PDIP Jatim ini, nampaknya sudah melakukan kaderisasi yang tepat. Tongkat estafet Pemerintahan Kabupaten Ngawi yang bakal dipercayakan ke Ony dan Antok, tetap akan melanggengkan kekuasaan PDIP di Kabupaten Ngawi.

Potensi adanya calon tunggal di Pilkada Kabupaten Ngawi ini, dinilai ada plus minusnya oleh pengamat politik lokal Syamsul Fatoni. Nilai plusnya, situasi politik di wilayah yang menyelenggarakan Pilkada dengan satu pasangan calon, akan berjalan relatif kondusif. Sebab tidak ada pertentangan atau friksi yang terjadi diantara pasangan cabup dan cawabup.

Sementara itu, untuk sisi minusnya tidak ada kompetisi antar pasangan calon. Dengan semua partai politik mengusung pasangan calon tersebut, menjadi tidak adanya kelompok yang kritis dalam mengontrol kekuasaan pemerintah. Sebab, Syamsul Wathoni menilai pemerintah yang baik mestinya memiliki kontrol. Apakah mungkin partai pendukung, akan menjadi oposisi yang mengkritik?

Meski diakui Syamsul jika di tradisi politik di Indonesia kondisi seperti itu dimungkinkan terjadi. Untuk itu, ke depan, hendaknya masyarakat harus meningkatkan kontrol terhadap proses pembangunan yang dilakukan pemerintah. [end/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar