Sorotan

People Power, Gerakan Islam atau Bukan?

Ribut Wijoto.

AKSI KEDAULATAN RAKYAT atau sebelumnya (dan lebih populer) bernama People Power mulai digerakkan. Gerakan selama tiga hari, terhitung mulai hari ini (Senin, 20 Mei 2019) hingga nanti berpuncak di hari Rabu (22 Mei 2019). Puncak yang bersamaan dengan pengumuman hasil rekapitulasi perolehan suara Pemilihan Presiden Republik Indonesia oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Apakah People Power merupakan gerakan Islam? Pertanyaan ini membutuhkan beberapa analisa atas gejala-gejala yang sedang berkembang dalam beberapa bulan terakhir. Gejala yang bergelibat erat dalam proses Pilpres 2019.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, suara umat Muslim memang menjadi ladang empuk perebutan kekuasaan. Termasuk perebutan kekuasaan melalui ajang Pilpres 2019.

Sebelum Pilpres 2019, penggerakan umat Islam terbukti sukses dalam ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017. Ketika itu, jutaan umat Islam dimobilisasi dalam gelaran Aksi 411 dan 212. Gerakan yang lantas memperoleh hasil dengan kemenangan pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno.

Kali ini, mobilisasi yang sama terulang dalam menyikapi proses Pilpres 2019. Simak seruan dari Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab bertitel Maklumat Mekkah yang dikeluarkan 27 April 2019 dari Mekah. “Sehubungan telah terjadinya kezaliman dan kecurangan yang terstruktur, Sistematis dan masif dalam Pemilu 2019, maka kami memandang perlu untuk menyampaikan Maklumat dari Kota Suci Makkah Al-Mukarromah,” demikian Habib Rizieq membuka Maklumat.

Habib Rizieq lantas menukilkan ayat Alquran dan sabda Nabi Muhammad SAW. Ayat dan sabda yang berisi tentang larangan berbuat curang.

Habib Rizieq kemudian memberi beberapa langkah teknis. “Dengan spirit 411 dan ruh 212 agar segera gelar Ijtima Ulama 3 secara cepat, tepat, manfaat dan selamat, untuk menyikapi segala kezaliman dan kecurangan Pemilu 2019 yang sadis dan brutal,” itu seruan pertama.

Kedua, Habib Rizieq mengajak santri dan umat yang berada di masjid, musala, majelis, pesantren, madrasah, dan rumah membaca secara tertib dan rutin Surat Yasin dan Surat Al-Fath, serta Hizbun Nashr Imam Syadzali dan Imam Alhaddad, lalu Istighotsah dan Munajat kepada Allah SWT.

Ketiga, Habib Rizieq mengajak agar mengawal, menjaga dan membela Capres dan Cawapres Prabowo – Sandi beserta BPN dan seluruh Partai Koalisi Indonesia Adil Makmur.

“Dengan membimbing, mendorong dan memotivasi masyarakat di semua daerah agar segera membentuk Panitia Aksi Bela Negeri untuk gelar Aksi Konstitusional untuk Kepung Bawaslu dan Laporkan Kecurangan Dengan Bukti, lalu selanjutnya Kepung KPU untuk Tuntut Keadilan,” itu seruan keempat.

Terakhir, Habib Rizieq menyerukan digelarnya aksi mengepung kantor Bawaslu dan KPU. Tuntutannya agar dua institusi itu mencoret atau mendiskualisi Joko Widodo (Jokowi).

Publik pun tahu, hampir seluruh seruan Habib Rizieq telah dijalankan. Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional 3 digelar di Hotel Lorin, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu, 1 Mei 2019. Prabowo Subianto turut datang.

Itjima 3 menyimpulkan terjadinya kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif pada pesta demokrasi Pilpres 2019. Bahkan, dalam salah satu poinnya mendesak otoritas penyelenggara Pemilu untuk mendiskualifikasi Jokowi-Ma’ruf karena jahat dan berbuat curang.

Dukungan atas People Power juga dilontarkan oleh mantan juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto. Menurutnya, dugaan kecurangan Pemilu 2019 terjadi secara terstruktur, sistematis, masif, dan brutal, adalah kemungkaran yang harus dilawan oleh umat Islam.

“Kecurangan pemilu yang dilakukan secara terstruktur, sistematis, masif, dan brutal itu adalah kemungkaran. Menurut Islam tidak boleh dibiarkan suatu kemungkaran,” kata Ismail, Senin (20/5).

Di pihak lain, jika FPI dan mantan jubir HTI menyerukan People Power sebagai bagian dari perjuangan yang berlandaskan ajaran Islam, pemaknaan berbeda datang dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa Muhammadiyah akan tetap berdiri pada khittahnya sebagai organisasi yang nonpartisan. “Tidak ada yang berubah dari Muhammadiyah dan tidak akan pernah berubah, Muhammadiyah tetap berdiri dengan kepribadian dan khittahnya,” ujar Haedar saat Muktamar Pemuda Muhmmadiyah ke XVII di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Senin 26 November 2018 lalu.

Atas dasar sikap nonpartisan itu, Muhammadiyah meminta para elite dan masyarakat menghormati pilihan rakyat dalam Pemilu 2019. Haedar Nashir pun tidak menyetujui digelarnya People Power. “Masyarakat di bangsa ini tidak akan menggunakan usaha-usaha memobilitasi massa yang mencederai jalur konstitusi,” kata Haedar di Gedung PP Muhammadiyah, Kamis (18/4).

Sikap senada dilontarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Ketua Umum PBNU, Kiai Said Aqil Siradj, menyerukan kepada seluruh masyarakat tidak perlu melakukan kegiatan pengerahan massa atau people power pada pengumuman rekapitulasi suara oleh Komisi Pemilihan Umum pada 22 Mei 2019. Menurutnya, aksi tersebut tidak ada gunanya.

“Lihat saja nanti ada apa enggak. Tapi kalau dari NU itu saya larang betul untuk ikut kegiatan tersebut. Karena itu, akan menjadikan kegaduhan,” kata Said, Kamis, 9 Mei 2019.

Berkaca dari sikap empat tokoh Islam di Indonesia tersebut, pemaknaan bahwa People Power adalah gerakan Islam tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Habieb Rizieq dan Ismail Yusanto jelas-jelas menyerukan digelarnya People Power karena hal itu sejalan dengan ajaran Islam. Sebaliknya, Haedar Nashir dan Said Aqil secara terus terang tidak menyetujui People Power.

Lalu bagaimana masyarakat Indonesia, yang mayoritas umat Islam, mesti menyikapi People Power?

Sulit menjawab pertanyaan itu. Tapi ada sebuah peribahasa tua, ‘dua gajah bertarung, pelanduk mati di tengahnya’. Peribahasa ini artinya, apabila ada orang-orang berkedudukan tinggi berkelahi atau bersengketa maka yang menjadi korban adalah orang kecil.

Ajang Pilpres adalah pertarungan dua tokoh besar, Jokowi dan Prabowo. Keduanya gajah. Keduanya, secara berseberangan, disokong tokoh-tokoh besar umat Islam. Sedangkan umat Islam sendiri, semoga umat Islam bukan sebagai pelanduk yang mati di tengah-tengah pertarungan dua gajah. [but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar