Sorotan

Ketika Gus Dur dan Cak Nun ‘Ludrukan’

Gus Dur dan Cak Nun dalam sebuah acara [foto/tangkapan layar youtube Cak Nun]

Keduanya sama-sama berasal dari Jombang, Jawa Timur (Jatim). Dari Kota Santri itu pula, mereka terkerek ke pentas nasional. Keduanya juga memiliki selera humor yang cukup tinggi, khas ludruk Jombangan.

Ya, dua tokoh itu adalah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Bagaimana jika keduanya bertemu dalam satu forum? Tentu saja, guyonan ala ludruk Jombangan pun mengalir.

Gus Dur mengerjai Cak Nun, sebaliknya Cak Nun membalas dengan hal serupa. Kutub dagelan inilah yang kerap menyatukan keduanya. Seperti yang terjadi dalam Munas Jam’iyyatul Quro wal Huffadz, di Probolinggo, Jatim.

Mengutip Kompas edisi Minggu 28 November 1993, Gus Dur dan Cak Nun diundang dalam acara tersebut, Rabu (24/11/1993) malam. Keduanya diundang sebagai pembicara. Gus Dur datang lebih dulu, sedangkan Cak Nun belakangan.

Namun malam itu, penampilan Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) ini terlihat berbeda dari biasanya. Gus Dur lebih santai. Gus Dur tidak mengenakan baju resmi. Cucu pendiri NU itu lebih memilih memakai kaos.

Seolah mengetahui kebingungan para hadirin, Gus kemudian memberi penjelasan. “Maaf, saya pakai kaos. Ini pun saya pinjam dari Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Mungkin, dia akan datang ke tempat ini, tetapi nanti setelah pukul 24.00 tengah malam,” ujar Gus Dur.

Ditunggu hingga pukul 20.00 WIB, Cak Nun belum juga muncul. Acara kemudian dimulai tanpa kehadiran budayawan asal Jombang itu. Toh, keterlambatan Emha tidak sampai pukul 24.00 seperti dugaan Gus Dur. Emha datang ke tempat Munas pukul 22.00, dan langsung diminta menyampaikan pokok-pokok pikirannya.

Bukan Cak Nun kalau tidak bisa membuat orang tergelak. “Saya ingin menghormat para kiai, sehingga dengan sangat terpaksa saya memakai baju supaya kelihatan lebih sopan. Eh, tak tahunya kaos yang saya tinggal di rumah Kiai Hasan (pengasuh pondok Zainul Hasan tempat munas berlangsung-red) sudah dipakai Ketua PBNU,” ujarnya disambut tawa hadirin.

“Saya mohon maaf kepada para kiai. Ternyata yang mengajari saya gombal ini Ketua Umum PBNU. Saya berusaha tampil rapi, malah ketua yang kaos-an,” sambung Cak Nun yang lagi-lagi disambut tawa peserta Munas.

Mendapat gojlokan semacam itu, Gus Dur tidak mau kalah. Dia langsung menimpali. “Tadi pagi saya sudah pakai jas lengkap, ketika menemani Pak Try Sutrisno. Ongkepe setengah mati, sampai tak bisa bernafas rasanya. Kalau sekarang pakai kaos, ya harap maklum. Ini sebagai ganti sumuk yang tadi pagi,” ujar Gus Dur.

Pertaubatan Soeharto
Pentas ludrukan Gus Dur dan Cak Nun lainnya terjadi seputar Reformasi atau setelah Soeharto lengser. Cak Nun kerap menceritakan kisah ini di forum Maiyahan. Juga menuliskan dalam bukunya yang berjudul Urusan Laut Jangan Dibawa ke Darat.

Ceritanya, usai Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden, Cak Nun berencana mendampingi sang Smilling General itu melakukan pertaubatan di Masjid Istiqlal. Namun karena suatu hal, rencana tersebut dibatalkan.

Suatu sore, Cak Nun bermain ke rumah Gus Dur di Ciganjur. Mengetahui batalnya acara pertaubatan Soeharto, Gus Dur pun menawarkan bantuan ke Cak Nun. Gus Dur meminta agar acara baiat tersebut tetap dilakukan. Teknisnya, Cak Nun diminta menunggu dan menyiapkan acara di Masjid Istqlal. Sedangkan Gus Dur akan menjemput Soeharto ke Cendana.

Mendapat tawaran itu, suami Novia Kolopaking ini girang bukan kepalang. Karena mendapat bantuan dari tokoh bangsa sekelas Gus Dur. Kabar baik itu kemudian disampaikannya ke wartawan yang sudah mencegatnya di depan rumah Gus Dur.

Kepada wartawan, pria asal Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito, Jombang ini membeberkan secara panjang lebar tentang kesediaan Gus Dur yang menjemput Soeharto ke Cendana. Para wartawan lalu mengklarifikasi pernyataan Cak Nun itu ke Gus Dur langsung. Namun apa jawaban Gus Dur? “Biasa itu, Cak Nun kalau bicara ngawur,” kata Gus Dur singkat.

Akhirnya Cak Nun hanya bisa geleng-geleng kepala ketika mengetahui bahwa tetangganya asal Jombang itu telah mengerjainya. Di kesempatan lainnya, giliran Cak Nun yang mengerjai Gus Dur. Itung-itung memperpanjang ludrukan (bermain ludruk) Jombang yang mereka mainkan.

Cak Nun Membalas
Singkat cerita, Cak Nun berkunjung ke rumahnya Gus Dur di Ciganjur. Dari awal berangkat, budayawan mbeling ini sudah berniat menggarap Gus Dur. Maka dia datang seolah membawa berita yang sangat penting untuk suami Sinta Nuriyah itu.

Cak Nun mengatakan bahwa Gus Dur akan mendapatkan tugas besar dari negara. Makanya Gus Dur harus senantiasa merawat kesehatan, utamanya bagian kepala dan penglihatan. Cak Nun juga mengatakan bahwa kabar itu didapat dari orang pintar dari Pacitan.

Pesan rahasia itu terpaksa dititipkan lewat Cak Nun, karena orang Pacitan sudah mencari-cari Gus Dur tapi tidak ketemu. Gus Dur mendengar dengan seksama penuturuan sahabatnya itu. “Orang pintar dari Pacitan itu berpesan agar sampean selalu menjaga kesehatan. Selain rajin ke dokter, dahi sampean harus ditempeli daun waru,” tutur Cak Nun meyakinkan.

Gus Dur hanya bisa mengangguk. Selanjutnya, pria asal Tebuireng Jombang ini memanggil keponakannya yang bernama Saiful (Saifullah Yusuf, mantan Wakil Gubernur Jatim). Dia meminta diambilkan satu lembar daun waru dan seember air. Saiful pun bergegas menjalan tugas dari pamannya.

Tak sampai hitungan jam, Saiful datang dengan membawa pesanan sang paman. Ritual pun dilakukan. Daun itu kemudian dimasukkan dalam ember yang berisi air. Mulut Gus Dur komat-kamit membaca al-Fatihah sebanyak tujuh kali. Terakhir, Gus Dur meletakkan daun waru di dahinya sembari tiduran.

Cak Nun yang berada di dekat Gus Dur mulai tersenyum-senyum. Karena dalam ludrukan tersebut dia berhasil membalas keusilan Gus Dur. Itulah ludruk Jombangan yang diperankan oleh dua tokoh nasional yang sama-sama berasal Kota Santri.

Memang, ludruk yang merupakan seni pementasan berasal dari Jombang, Jawa Timur. Berawal dari seorang bernama Pak Santik sekitar 1907-an yang mengamen keliling. Dia berdandan aneh. Memoles wajahnya dengan bedak tebal tidak merata, sehingga terlihat belang-belang (lorek-lorek). Nah, dari situlah akhirnya muncul istilah lerok.

Dalam perkembangannya Pak Santik berhasil mendapatkan dua pemain lainnya. Jadilah Pak Santik berperan sebagai Besut, dua orang lagi berperan sebagai Man Gondo Jamino dan Rusmini. Dari lerok inilah kemudian dikenal dengan seni besutan.

Lewat seni besutan, Pak Santik melakukan kritik ke penjajah. Humor-humornya cerdas menampar penguasa. Seiring laju waktu, pentas ludruk semakin berkembang. Diawali dengan tari remo, kidungan (bernyanyi sambil berpantun), dagelan (lawak), dan terakhir isi cerita. Namun demikian, ruh ludruk sebagai representasi orang kecil tetap menyala. Gus Dur dan Cak Nun memahami itu. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar