Surabaya (beritajatim.com) — Kain tradisional tak harus berhenti sebagai warisan yang disimpan. Desainer busana muslim Lita Berlianti membuktikannya melalui koleksi terbaru ACCULTURÉE yang diperkenalkan di panggung Soerabaia Fashion Trend (SFT) 2027 di Ciputra World Mall Surabaya, Sabtu (15/8/2026).
Ajang yang digagas Indonesian Fashion Chamber (IFC) tersebut menjadi ruang bagi Lita untuk mempertemukan kekayaan wastra Nusantara dengan gagasan fashion masa depan.
ACCULTURÉE merespons tren fashion 2027 bertema “Recode”, yang merefleksikan perubahan gaya hidup menuju pola lebih berkelanjutan di tengah perkembangan teknologi digital. Melalui subtema “ORIGIN Code”, Lita mengangkat kembali warisan budaya Nusantara dengan pendekatan desain yang edgy, modern, dan fungsional.
Sebanyak delapan desain dihadirkan dengan Tenun Gedog dari Tuban, Jawa Timur, sebagai material utama. Kain berbahan serat alami tersebut diolah menjadi busana kerja modern (modern workwear) hingga gaun malam (evening gown).
Detail pengerjaan tangan turut memperkuat karakter koleksi. Payet, mutiara, hingga embroidered tulle digunakan untuk menghadirkan sentuhan kemewahan yang tetap subtil.
“Melalui ACCULTURÉE, saya ingin membuktikan bahwa kain tradisional seperti Tenun Gedog Tuban tidak hanya menjadi artefak masa lalu, tetapi mampu bertransformasi menjadi busana modern yang relevan, fleksibel, dan fungsional untuk perempuan aktif masa kini tanpa kehilangan keanggunannya,” ujar Lita.
Satu Koleksi, Banyak Gaya
Konsep mix and match menjadi salah satu kekuatan ACCULTURÉE. Beberapa potong busana dapat dipadupadankan untuk menghasilkan berbagai tampilan.
“Konsep tersebut sekaligus menjadi jawaban terhadap kebutuhan fashion yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Konsumen tidak harus memiliki banyak pakaian untuk mendapatkan variasi gaya,” ujar Lita.
Ia juga menjelaskan bahwa palet warna koleksi dibuat dekat dengan karakter alam, mulai dari broken white, ivory, cream, choco, black, hingga deep blue. Perpaduan tersebut memperkuat identitas Lita yang dikenal melalui karakter desain elegan, modern, dan classy.
AI Jadi Teman Brainstorming
Selain mengandalkan kekuatan wastra lokal, Lita juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dalam proses kreatif. Teknologi seperti Gemini AI digunakan sebagai teman brainstorming untuk membaca referensi tren fashion global 2027.
Lita dapat mengeksplorasi ide desain, menentukan jenis busana, hingga melihat kemungkinan kombinasi warna kain melalui bantuan AI. Referensi dari rumah mode dunia kemudian dielaborasi dengan identitas lokal dan tema yang diusung IFC.
Namun, Lita menegaskan AI tidak akan menggantikan peran manusia.
“Teknologi hanya berfungsi sebagai alat untuk mempercepat eksplorasi dan mengoptimalkan proses kreatif. Keputusan akhir tetap berada di tangan desainer karena kreativitas, intuisi, pengalaman, serta nilai budaya merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari manusia,” terangnya.
Melalui ACCULTURÉE, Lita menunjukkan bahwa Tenun Gedog Tuban bisa tetap berakar pada tradisi sekaligus berbicara dengan bahasa fashion modern. Wastra Nusantara pun tidak sekadar menjadi peninggalan budaya, tetapi dapat berkembang menjadi busana relevan bagi generasi masa kini. [fyi/suf]






