Sidoarjo (beritajatim.com) – Sudah tiga pekan ini, Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo dilanda banjir. Akibatnya, sistem belajar-mengajar beberapa ruang kelas di sekolah desa tersebut terganggu khususnya di SMPN 2 Tanggulangin.
Sekolah tersebut memiliki 21 ruang kelas. Tujuh di antaranya masih terendam air sampai saat ini.
Selain ruangan kelas, kamar mandi guru dan siswa juga masih tergenang air. Sehingga belum bisa digunakan.
“Untuk keperluan sanitasi, kita gunakan kamar mandi lainnya,” ucap Guru SMPN 2 Tanggulangin Abdul Hasan, Sabtu (11/2/2023).
Abdul Hasan mengatakan, proses belajar harus tetap berjalan. Maka pihak sekolah tetap melakukan kegiatan belajar-mengajar secara tatap muka di sekolah.
“Untuk kelas yang terendam banjir, kami proses belajar mengajarnya pindah ke masjid yang ada di sekolah,” terangnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Sidoarjo”]
Meski sebagian ruang kelas dilanda banjir, para siswatetap masuk seperti biasa. Tetapi untuk tempat pembelajaran dibuat sistem bergiliran, karena tujuh kelas tidak dapat difungsikan.
Abdul Hasan menjelaskan untuk mengatasi banjir itu, pihak sekolah juga sudah berusaha meninggikan masing-masing kelas. Selama 4 tahun ini peninggian hampir 80 cm di berbagai sudut sekolah.
“Tapi kalau hujan ya tetap banjir dan surutnya lama,” keluh dia.
Menyikapi banjir yang tak kunjung surut ini, Abdul Hasan dan para guru SMPN 2 Tanggulangin mengaku pasrah. Mereka berharap ada solusi konkret dari pemerintah.
“Kasihan anak-anak didik jika hal ini tidak ada solusinya,” imbuhnya. [isa/beq]






