Ponorogo (beritajatim.com) – Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Ponorogo sepanjang Minggu (13/2) malam. Alhasil, sejumlah aliran sungai di bumi reyog mengalami kenaikan debit air. Hal tersebut menyebabkan air sungai meluap ke daratan.
Sehingga mengakibatkan beberapa wilayah di bumi reyog banjir. Salah satunya yang terjadi di aliran sungai di Desa/Kecamatan Sukorejo Ponorogo. Air sungai yang meluap, menggenangi jalan hingga ketinggian lebih dari 15 centimeter.
Widodo warga setempat mengungkapkan bahwa pukul 02.00 WIB dini hari, air sungai mulai naik. Saat itu hujan juga masih belum berhenti sejak Minggu malam pukul 22.00 WIB. Kemudian pagi pukul 04.00 WIB, air sungai yang meluap mulai merangsek ke jalanan.
“Di jalan barat balai desa itu, banjir memang sering terjadi. Tidak ada yang sampai masuk ke dalam rumah, namun hanya menggenangi jalan saja,” kata Widodo saat ditemui beritajatim.com, Senin (14/2/2022).
[berita-terkait number=”4″ tag=”banjir-ponorogo”]
Pantauan beritajatim.com di lokasi banjir, sejumlah pengguna jalan, sepeda motornya mogok saat melintasi jalan yang tergenang air tersebut.Ya, memang untuk kendaraan sepeda motor kalau nekat menerjang, sudah dipastikan mesinnya mati karena mogok. Namun, untuk mobil masih bisa melewati. Jalannan di Desa Sukorejo ini, yang tergenang air, kurang lebih mencapai 2 kilometer.
“Banyak kendaraan sepeda motor yang mogok, mereka nekat menerjang banjir,” pungkas Widodo.
Banjir yang terjadi di Desa Sukorejo, juga berdampak pada proses belajar mengajar di SDN 1 Sukorejo. Karena kondisi jalanan yang banjir, pihak sekolah terpaksa meliburkan siswa-siswinya. Salah satu guru di SDN 1 Sukorejo, Anita Nikmatul Sholihah mengungkapkan sebanyak 66 siswa-siswi SDN 1 Sukorejo hari ini Senin (14/2) terpaksa diliburkan.
“Demi keamanan dan keselamatan, kami terpaksa meliburkan siswa-siswi. Mereka disarankan untuk belajar di rumah,” ungkap Anita.

Guru berhijab itu menceritakan bahwa air memang tidak sampai ke ruangan kelas. Hanya berada di jalan dan nyaris ke halaman sekolah. Namun, karena tingginya air yang menggenangi jalan, kemungkinan juga ada siswa yang tidak bisa lewat untuk pergi ke sekolah. Sehingga meliburkan siswa ini sebagai langkah antisipasi supaya mereka selamat dan aman.
“Ada jalan yang airnya lumayan tinggi, sehingga ada yang memang tidak bisa dilewati oleh siswa. Demi keselamatan dan keamanan, keputusan meliburkan sementara ini menjadi keputusan yang terbaik,” pungkasnya. (end/ted)






