Jember (beritajatim.com) – Banjir datang lagi. Rumah pribadi Bupati Jember Hendy Siswanto di Jalan Sultan Agung, Lingkungan Kampung Ledok, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dua kali dikepung banjir dalam tempo sepekan.
Setelah kebanjiran pada Jumat (24/2/2023), rumah Hendy kembali kebanjiran sore ini, Kamis (2/3/2023) sore. “Banjir maning. Sekarang tingginya 1,6 meter. Sekitar 60 persen warga rukun warga kami terdampak. Sekarang alhamdulillah mulai surut,” kata Hendy.
Kendati sudah surut, Hendy tetap cemas. “Ini banjir ketiga sejak Desember 2022 lalu dan volumenya besar. Pertanda ke depan masalah banjir di aliran Sungai Jompo sangat berisiko. Harus secepatnya ada penanganan serius,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”banjir-jember”]
Menurut Hendy, penanganan banjir baru dilaksanakan setelah musin kemarau datang. “Namun dilaksanakan perencanaan sekarang, mulai dari desain, skala prioritas, anggaran, dan lain-lain,” katanya.
Sebelumnya, Hendy berharap pemerintah pusat memasukkan Jember dalam program penanganan bencana banjir nasional. “Penanganannya harus kolaboratif antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi Jatim, dan Pemkab Jember, dari hulu ke hilir,” katanya.
Dalam acara silaturahmi dengan pejabat dan tokoh masyarakat, di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat malam (26/2/2021), Hendy mengingarkan soal ancaman bahaya banjir. “Di ujung Panti, di lereng Gunung Argopuro, di situ ada coakan kecil isinya air, dan gunung itu retak. Ada garisnya. Kalau sampai hujan enam hari berturut-turut, mudah-mudahan tidak terjadi, coakan itu akan penuh air,” katanya. [wir/kun]






