Ponorogo (beritajatim.com) – Paralayang perlahan berhasil mengubah wajah Desa Tatung. Digelarnya event paralayang membuat Gunung Gede dan Tatung semakin terkenal. Namun, potensi yang dimiliki desa itu tak hanya venue paralayang. Tatung juga dikenal sebagai desa penghasil produk pertanian berkualitas. ‘’Desa Tatung terkenal dengan penghasil buah bengkoang dan tembakau,’’ ujar Kades Tatung Rudi Sugiarto.
Luas wilayah Tatung mencapai 240 hektar. Jumlah penduduknya 2126 jiwa. Jauh sebelum dikenal sebagai venue paralayang, Tatung cukup dikenal memiliki pertanian unggul. Mayoritas mata pencaharian warganya adalah bertani. Seperti petani umumnya, warga setempat menanam aneka tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai.
Seiring berjalannya waktu, petani setempat mulai mendiversifikasi pertanian mereka. Hingga Tatung dikenal sebagai salah satu desa penghasil bengkoang dan tembakau unggulan. Saat panen raya, potensi produksi bengkoang di Tatung mencapai 700 ton, dari lahan seluas 10 hektar.
Ada sekitar 70 hektar lahan pertanian di Tatung yang ditanami tembakau. Rudi menyebut, perekonomian warganya terangkat berkat pertanian tembakau. Dia coba membandingkan pendapatan dari menanam padi dan tembakau. Rata-rata satu hektar lahan mampu menghasilkan 7 ton padi. Jika harga padi Rp 5.000 per kilogram, pendapatan yang diperoleh Rp 35 juta. Lain dengan tembakau. Dari satu hektar, petani bisa meraup cuan minimal Rp 70 juta. Dengan catatan, tidak turun hujan. Pasalnya, kualitas tembakau turun jika terkena hujan. Karena itu, petani setempat menanam tembakau pada Mei hingga Agustus.
‘’Tanah di Tatung ini cocok jika ditanami tembakau. Hasilnya juga lumayan,’’ kata Suparlan, salah satu petani tembakau.
Suparlan menyebut, waktu yang diperlukan dari tanam sampai panen mencapai empat bulan. Menurut dia, ketika tiba waktu panen, rasa-rasanya tidak ada warga desa yang menganggur. Warga dipekerjakan untuk memetik, menjemur, dan memotong tembakau. Petani juga tidak mengalami kendala dalam memasarkan tembakau mereka. Sebab selama ini, mereka bermitra dengan salah satu perusahaan rokok nasional. ‘’Tembakau yang sudah dipotong dan sudah kering tinggal disetorkan ke gudang di daerah Sukorejo,’’ beber Suparlan.
Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, Pemdes Tatung pada awal tahun ini mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Nusa Jaya Abadi. Harapannya, selain untuk meningkatkan perekonomian, BUMDes juga mampu mengoptimalkan aset desa, meningkatkan usaha-usaha masyarakat, dan menciptakan peluang usaha. ‘’Bumdes Nusa Jaya Abadi ini masih terbentuk awal tahun ini, sebelum pandemi Covid-19,’’ kata Sekretaris BUMDes Nusa Jaya Abadi Siti Endah Purwaningsih.
Bumdes dibentuk untuk memberi solusi atas berbagai persoalan di desa. Misalnya, warga yang kesulitan mendapatkan air bersih saat kemarau, bisa terbantu berkat usaha penyediaan air bersih BUMDes tersebut. Endah menyebut, pihaknya sudah membangun sumur dalam. Lantas, air dari sumur ditampung di sebuah tandon besar, lalu dialirkan ke rumah warga.
‘’Ya seperti PDAM itu. Di rumah warga ada meteran airnya. Warga membayar bulanan, tergantung besaran meteran tiap bulan,’’ terangnya.
Bumdes Nusa Jaya Abadi juga menggulirkan bantuan modal untuk kelompok masyarakat (pokmas) perajin anyaman bambu. Sebelumnya, produk yang dihasilkan hanya rinjing. Namun setelah disuntik modal, pokmas kini bisa membuat berbagai kerajinan lain seperti besek.
‘’Perajin yang terkendala pemasaran, difasilitasi dengan mengikutsertakan produk mereka di pameran-pameran UMKM,’’ tutur Endah, sembari menyebut pihaknya juga mengelola pasar desa dan Taman Paralayang.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ponorogo”]
Menurut Endah, pandemi sangat memukul usaha-usaha yang dijalankan pihaknya. Yang paling terdampak adalah pariwisata. Kawasan Gunung Gede sempat ditutup sejak awal pandemi Covid-19. Objek wisata itu baru dibuka kembali dua bulan terakhir. Pembukaan ini juga dibarengi penyesuaian dengan adaptasi kebiasaan baru. Misalnya, penambahan fasilitas cuci tangan.
Pengelola selalu mengingatkan pengunjung untuk menggunakan masker dan jaga jarak saat berada di objek wisata. Untuk sementara, pendapatan dikembalikan ke pengelola untuk pemeliharaan objek wisata desa tersebut. ‘’Meski jumlahnya sedikit, kami tetap ada pemasukan. Yang terpenting, saat ini mengembangkan dan mengembangkan lagi objek wisata taman paralayang itu,’’ pungkasnya. [end/but]








