Jeddah (beritajatim.com) – Aroma petrichor yang khas setelah hujan di tanah Jawa tak pernah mereka rasakan. Bagi ratusan anak yang berlari mengejar fajar di sudut Kota Jeddah, Indonesia mungkin hanyalah sebentuk peta berwarna-warni di buku atlas, atau untaian cerita pengantar tidur yang dibisikkan ibu mereka dengan nada rindu yang getir.
Mereka tumbuh di antara deru angin gurun dan megahnya bangunan beton berpintu gerbang jutaan jamaah haji dunia. Namun, begitu melangkah melewati pintu gerbang Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), atmosfer seketika berubah. Di sini, udara mendadak beraroma hangat seperti di rumah sendiri.
Ada pemandangan yang selalu menggetarkan hati setiap pagi. Tangan-tangan kecil berkulit kecokelatan itu meraih jemari para guru, lalu menempelkannya ke dahi atau pipi mereka dengan takzim.
Sebuah gestur sederhana, mencium tangan, yang mungkin terasa biasa di tanah air, namun menjadi begitu sakral dan mahal di ribuan kilometer seberang lautan. Di sinilah, di bawah langit Arab Saudi yang benderang, identitas kebangsaan dirawat dengan penuh ketelatenan.
Mengasuh sekitar 1.368 jiwa suci dari latar belakang yang berkelindan rumit bukan perkara mudah. Sebagian dari mereka adalah putra-putri diplomat yang fasih berbahasa asing, namun tak sedikit yang lahir dari rahim para pekerja migran yang memeras keringat di negeri orang.
Bahkan, lebih dari 30 persen di antaranya merupakan anak-anak dari pernikahan campuran. Mereka adalah tunas-tunas muda yang mengantongi kewarganegaraan ganda, berdiri di persimpangan dua budaya, menanti waktu untuk memilih ke mana hati mereka akan melabuhkan kesetiaan.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) menyaksikan langsung di tengah hiruk-pikuk pelayanan tamu Allah, SIJ tegak berdiri bagaikan mercusuar yang menjaga agar anak-anak ini tidak kehilangan arah dan melupakan akar sejarah nenek moyang mereka.
Kepala Sekolah Indonesia Jeddah, Mahrani, M.Pd, menatap halaman sekolah dengan pandangan mata yang teduh namun sarat keteguhan. Ia mengisahkan bagaimana para guru yang baru datang dari tanah air harus menembus batas kenyamanan mereka.
Di sini, seorang pengajar tak bisa hanya berdiri di satu kotak kelas formal. Mereka adalah musafir ilmu yang harus siap melintasi berbagai jenjang pendidikan, dari memandu jemari lentik anak TK hingga menemani kedewasaan siswa SMA.
Napas pendidikan di SIJ memang mengacu pada kurikulum nasional Indonesia, namun ia berdenyut mengikuti ritme lokal. Ketika musim haji tiba dan kota ini dipadati jutaan umat manusia, lonceng sekolah dijeda.
“Anak-anak harus tetap mengenal Indonesia meskipun mereka lahir dan besar di Arab Saudi,” kata Mahrani.
Tantangan terbesar yang dihadapi para pendidik di sini bukanlah mengejar angka-angka mati di atas kertas rapor. Tugas paling sunyi sekaligus paling luhur adalah memahat jiwa nasionalisme pada dada anak-anak yang bahkan belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di atas tanah Nusantara.
Bahasa Indonesia dijadikan bahasa ibu di lingkungan sekolah, menggeser dominasi bahasa lokal agar lidah mereka tidak asing melafalkan kata “merdeka”.
Mahrani memegang satu janji yang tak boleh runtuh oleh badai apa pun: tidak boleh ada satu pun anak Indonesia di bumi para nabi ini yang kehilangan haknya untuk melihat jendela dunia.
“Tidak boleh ada anak Indonesia yang putus sekolah atau tidak mendapatkan akses pendidikan,” tegas Mahrani.
Di SIJ, seluruh birokrasi yang kaku dibakar habis. Tak ada sistem zonasi yang menjebak, tak ada syarat prestasi yang memilah, tak ada aturan kepindahan orang tua yang merumitkan. Selama di dalam darah anak tersebut mengalir identitas Indonesia, pintu sekolah akan selalu terbuka lebar.
Komitmen kemanusiaan itu terasa kian kental saat menengok sudut kelas khusus inklusi. SIJ menorehkan sejarah sebagai satu-satunya Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN) yang menyediakan ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Sebanyak 14 siswa dengan spektrum autisme hingga disleksia dirangkul tanpa pembeda. Bagi mereka, angka evaluasi tak lagi bermakna. Rapor mereka adalah catatan-catatan penuh cinta tentang bagaimana jemari mereka mulai tenang atau bagaimana sebuah kata berhasil diucapkan dengan jelas—sebuah panduan bagi orang tua untuk melanjutkan pelukan pendidikan di rumah.
Tentu saja, bangunan cinta ini tidak berdiri tanpa retakan. Di balik senyum anak-anak, ada beban berat yang dipikul oleh 56 tenaga pengajar. Rasio ideal yang semestinya hanya menampung 600 siswa dipaksa melar hingga melayani seribu lebih murid.
Keterbatasan ruang kelas diakali dengan program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) skema Kejar Paket secara daring, sebuah jembatan darurat agar tak ada anak yang tercecer di jalanan.
Melalui subsidi silang dari komite sekolah dan kedermawanan orang tua, beban itu dipikul bersama, termasuk untuk membiayai sekolah seratus lebih anak yatim yang menggantungkan masa depannya di sini.
Setiap tahun, anggaran sebesar Rp6,5 miliar harus dikeluarkan hanya untuk membayar sewa gedung yang kini mereka tempati. Angka yang fantastis untuk sebuah status “menumpang”.
Namun, angin segar mulai berembus dari meja-meja diplomasi. Pemerintah Arab Saudi telah mengetuk palu persetujuan sewa lahan selama 50 tahun. Kini, tiga kementerian di Indonesia tengah bahu-mewujudkan mimpi besar: membangun sebuah kampus permanen yang kokoh.
Hingga hari impian itu tiba, di bawah atap sewaan yang sederhana ini, lagu Indonesia Raya akan terus berkumandang setiap Senin pagi, menembus sela-sela debu gurun Jeddah.
Di tempat yang jauh dari rumah ini, merah putih tidak sekadar dikibarkan pada tiang besi, melainkan ditanam sedalam-dalamnya di dalam palung hati setiap anak didik. [ian/MCH]







