Surabaya (beritajatim.com) – Berdasarkan data dari Dashboard Nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), sejak Maret 2020 hingga 10 September 2021 ada sebanyak 7.044 anak usia 0-17 tahun yang menjadi yatim, piatu dan yatim piatu selama pandemi Covid-19.
“Kalau di Surabaya, ada sebanyak 1.244 anak yatim, piatu dan yatim piatu. Dari jumlah itu, 55 persennya adalah anak yatim atau ditinggal ayahnya. Artinya, ada 684 perempuan menjadi single parent atau janda baru di Surabaya,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jatim, Andriyanto ditemui di kantornya, Jumat (10/9/2021).
Berdasarkan Dashboard Nasional Kementerian PPPA itu juga, menurut dia, ada sebanyak 57 persen dari jumlah 7.044 anak di Jatim itu adalah anak yatim, 36 persen piatu dan 7 persen yatim piatu.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemprov-jatim”]
“Artinya, kalau dihitung dari jumlah yang menjadi anak yatim, ada perempuan single parent baru yang ditinggal suaminya meninggal Covid-19 (sebagai kepala keluarga) sebanyak 4.015 orang di Jatim. Itu data sampai tanggal 10 September ini,” tuturnya.
Langkah yang dilakukan DP3AK Jatim adalah menengok anak-anak yatim dari keluarga yang tidak mampu atau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Permalasahan itu juga sudah diantisipasi oleh Dinas Sosial.
“Ibu-ibunya harus kita tingkatkan usaha ekonomi keluarganya. Kami juga melakukan pelatihan peningkatan produktivitas usaha keluarga di Kabupaten Blitar dan Ngawi belum lama ini. Yakni, membuat sabun mandi, sabun cuci piring dan sabun cuci tangan di Blitar. Di Ngawi membuat baju dari bahan yang murah,” jelasnya.
DP3AK juga akan membuat rumah kurasi Pekka (perempuan sebagai kepala keluarga) berbasis digital. “Jadi, nantinya mereka ingin pelatihan apa, semisal pelatihan memasak, tinggal mengklik saja. Ada juga pelatihan menjahit, membuat kue dan lain sebagainya. Ini untuk membuat mereka berdaya secara ekonomi semenjak ditinggal suaminya,” pungkasnya. (tok/kun)






