Bojonegoro (beritajatim.com) – Harga sejumlah kebutuhan pokok di Kabupaten Bojonegoro mulai merangkak naik di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang disebut telah menyentuh kisaran Rp17.668 per dolar pada Senin (18/5/2026).
Data pemantauan harga yang ditampilkan melalui laman Disdag Online milik Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disdagkopum) Kabupaten Bojonegoro menunjukkan kenaikan terjadi pada berbagai komoditas pangan, mulai dari beras, gula pasir, minyak goreng, hingga cabai dan bawang merah.
Harga beras premium tercatat naik menjadi Rp15.350 per kilogram dari sebelumnya Rp14.824 per kilogram atau meningkat sekitar 3,43 persen. Sementara beras medium kini berada di angka Rp13.125 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada gula pasir lokal yang saat ini dijual rata-rata Rp17.375 per kilogram, naik sekitar 4,09 persen dibanding harga sebelumnya.
Lonjakan cukup tinggi terlihat pada komoditas minyak goreng. Minyak goreng kemasan sederhana kini menyentuh Rp20.625 per liter atau naik sekitar 9,44 persen. Sedangkan minyak goreng curah tercatat mencapai Rp21.187 per kilogram.
Untuk komoditas protein hewani, harga daging sapi paha belakang naik menjadi Rp122.500 per kilogram. Adapun daging ayam kampung mengalami kenaikan cukup tajam hingga mencapai Rp79.375 per kilogram atau naik sekitar 14,46 persen.
Selain itu, bawang merah kini dijual rata-rata Rp41.625 per kilogram, meningkat lebih dari 10 persen. Harga ikan asin teri bahkan melonjak hampir 18 persen menjadi Rp105 ribu per kilogram.
Cabai rawit merah juga mengalami kenaikan signifikan menjadi Rp73.125 per kilogram dari sebelumnya Rp67.727 per kilogram. Sementara cabai merah keriting naik tipis menjadi Rp42.750 per kilogram.
Tak hanya bahan pangan lokal, komoditas yang berkaitan dengan bahan baku impor juga mulai terdampak. Tepung terigu protein sedang kemasan misalnya, kini naik menjadi Rp11.125 per kilogram dari sebelumnya Rp10.515 per kilogram.
Kepala Bidang Bina Usaha Perdagangan Disdagkopum Bojonegoro, Yuri Nur Rahmawati, membenarkan adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas di pasaran.
“Beberapa memang mengalami kenaikan,” ungkap Yuri, Senin (18/5/2026).
Menurut Yuri, naiknya harga dipengaruhi berbagai faktor, terutama biaya distribusi dan transportasi. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga memberi dampak tidak langsung terhadap biaya produksi sejumlah komoditas.
“Kayaknya lebih ke biaya transport. Dolar melemah secara tidak langsung mempengaruhi beberapa hal yang berkaitan dengan bahan dasar yang masih impor, seperti plastik, kedelai, tepung, pakan ternak, dan pupuk,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan tidak semua komoditas dibiarkan mengikuti mekanisme pasar sepenuhnya. Pemerintah pusat masih melakukan pengawasan terhadap beberapa bahan pokok tertentu.
“Ada beberapa pasar pantauan yang mendapat perhatian khusus sampai ke Kemendagri, khususnya beras dan minyak. Sedangkan yang lain mengikuti mekanisme harga pasar,” jelas Yuri.
Ia memastikan harga beras SPHP dan Minyakita di pasar pantauan masih tetap sesuai ketentuan pemerintah dan belum mengalami perubahan harga.
“Beras SPHP tetap di harga Rp12 ribu per kilogram dan Minyakita Rp15.700 per liter. Itu tidak boleh dinaikkan tanpa instruksi khusus,” tegasnya.
Sebagai informasi, data harga yang ditampilkan melalui website Disdag Online merupakan hasil rata-rata pemantauan dari 85 pasar yang tersebar di 28 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro. Harga tersebut merupakan rerata pasar harian dan bukan patokan harga tetap.(lim/aje)






