Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menyatakan lambatnya regenerasi petani di Jawa Timur (Jatim) menjadi persoalan serius yang mengancam ketahanan pangan nasional. Dia menekankan pentingnya percepatan regenerasi petani.
“Soal regenerasi petani, ini masalah yang dihadapi oleh Jatim dan mungkin juga semua provinsi di Indonesia. Lambannya regenerasi petani menyebabkan terus terjadi penurunan jumlah petani muda. Oleh karena itu saya meminta pemerintah Pusat dan Jatim serius dalam mengeksekusi persoalan ini,” ujar LaNyalla, Jumat (19/1/2024).
Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023, jumlah petani milenial di Jatim yang berumur 19-39 tahun sebanyak 971.102 orang (17,63 persen dari total petani di Jatim yang sebanyak 5.507.699 orang).
LaNyalla mengatakan, berkurangnya jumlah petani muda akan berpengaruh kepada produktivitas pertanian yang pada akhirnya berdampak pada turunnya stok pangan nasional. Hal itu, kata LaNyalla, tidak boleh terjadi.
Mengingat krisis pangan diperkirakan menjadi salah satu tantangan terbesar yang akan dihadapi masyarakat dunia menjelang tahun 2040 hingga 2050 mendatang.
“Kondisi ini harus benar-benar menjadi perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah di daerah. Tidak hanya mencari solusi untuk swasembada, tapi juga mengambil peluang. Karena Jawa Timur salah satu penjaga kedaulatan pangan Indonesia dan Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi lumbung pangan dunia,” tukas dia.
Selain berkurangnya minat anak muda bertani, kondisi tersebut diperparah dengan beberapa permasalahan lain, seperti alih fungsi lahan yang sedemikian cepat, fluktuasi harga panen, perubahan iklim dan cuaca yang sulit diprediksi, faktor kenaikan harga BBM dan lain-lain.
“Kita memang harus memaksimalkan segala potensi untuk swasembada, meskipun sangat berat. Karena kondisi di Indonesia dari data Kementerian ATR/BPN, setiap tahun alih fungsi lahan sawah menjadi non-sawah yang terjadi di Indonesia mencapai hampir sekitar 100 ribu hektare. Artinya, kalau dalam 10 tahun, sudah satu juta hektare. Ini tentu harus dicegah dan dicarikan solusinya,” ujar LaNyalla.
Indonesia, lanjutnya, juga memiliki persoalan tentang luasan lahan sawah yang dimiliki petani di Indonesia. Dihitung rata-rata, sekitar 80 persen petani di Indonesia memiliki lahan kurang dari 1 hektare.
“Ini menyulitkan bagi kita untuk mengejar swasembada. Makanya kita dorong percepatan regenerasi petani karena saya yakin di tangan anak muda, di tangan petani milenial, pertanian akan kembali berjaya karena dengan pola pikir maju dari mereka dalam memanfaatkan teknologi, hasil-hasil pertanian akan sangat menjanjikan,” papar dia.
Untuk mendorong percepatan regenerasi petani, LaNyalla meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memberikan berbagai dukungan kepada petani muda, seperti pelatihan, bantuan modal, dan akses ke pasar.
“Pemerintah harus membuat program yang menarik bagi anak muda untuk bertani. Misalnya, memberikan beasiswa bagi anak muda yang ingin belajar pertanian, memberikan pelatihan dan pendampingan kepada petani muda, serta memberikan akses kepada pasar yang luas,” kata LaNyalla.
Ia juga berharap, para petani muda dapat memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
“Teknologi digital dapat membantu petani untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing pertanian. Oleh karena itu, para petani muda harus belajar dan memanfaatkan teknologi digital,” pungkas LaNyalla. [beq]






