Lamongan (beritajatim.com) – Ratusan Warga Desa Kemantren, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan menggelar aksi demonstrasi ke PT Lamongan Integrated Shorebase (LIS), PT Eastern Logistics, Jumat (20/10/2023).
Ratusan masyarakat Kemantren bergerak bersama menuju ke pintu masuk PT. LIS sembari menyuarakan sejumlah tuntutannya. Mereka hendak merangsek masuk ke area utama perusahaan yang berlokasi di bibir pantai setempat.
Aksi mereka dihadang oleh puluhan petugas keamanan dari Polres Lamongan yang sedari awal berjaga di pintu masuk. Ketegangan pun sempat mewarnai aksi demonstrasi ini.
Usai terjadi ketegangan, akhirnya aksi yang melibatkan seluruh unsur di Desa Kemantren ini diizinkan untuk masuk ke dalam area perusahaan dan kembali menyuarakan beberapa tuntutannya.
Adapun sejumlah tuntutan itu meliputi pertama, memprioritaskan rekrutmen tenaga kerja warga Desa Kemantren minimal 75 persen sesuai Amdal Shorbase, termasuk yang ada atau tidak ada surat rekomendasi dari Pemda (surat sakti).
Kedua, tidak memperbolehkan kapal untuk bersandar parkir/lego jangkar di wilayah batas perairan yang telah disepakati kedua pihak, shorbase dan desa.
Ketiga, ada kesepakatan CSR, di antaranya santunan anak yatim dan dhuafa, tentang kesehatan masyarakat, tentang biaya/beasiswa pendidikan, pemberdayaan ekonomi (supply air bersih dan lainnya).
Lalu pembinaan tenaga kerja (skill atau non skill), pemeliharaan situs cagar budaya desa, baik di dalam maupun di sekitar perusahaan, pemeliharaan fasilitas umum (penataan alur perahu, tambatan perahu nelayan, musholla, dll).
Keempat, memperjelas status jalan desa dalam perusahaan serta ada pintu masuk ke area situs desa. Kelima, perusahaan atau sub kontraktor yang berada dan akan beroperasi di dalam Lamongan Shorbase harus sosialisasi ke Pemerintah Desa.
Keenam, proyek jeti segera dilakukan sosialisasi ke tingkat desa.
Setelah warga desa melakukan demo di dalam area perusahaan, terjadi perundingan antara pihak Lamongan Shorbase dengan warga. Perundingan itu kemudian dilanjutkan ke Balai Desa setempat.
Kepala Desa Kemantren, Suaji, yang memimpin aksi demonstrasi ini mengatakan bahwa aksi demonstrasi ini dipicu oleh diberhentikannya puluhan karyawan pribumi asal Desa Kemantren yang dilakukan oleh pihak Lamongan Shorbase secara massal.
Selain itu, sebut Kades Suaji, proyek jeti yang mulai dilakukan oleh Lamongan Shorbase tak disosialisasikan ke pihak Desa Kemantren.
“Awalnya karena ada beberapa pekerja sini yang dikeluarkan tanpa adanya komunikasi yang baik. Sehingga banyak warga yang mendesak Pemerintah Desa untuk mempertanyakan hal itu,” kata Suaji.
Suaji meminta kepada pihak PT. LIS untuk selalu menjalin koordinasi dan komunikasi yang lebih baik, sehingga ke depannya tidak lagi terjadi hal-hal semacam ini dan mampu mewujudkan kondusifitas di lingkungannya.
Pihaknya juga mengancam akan menggelar aksi serupa apabila sejumpah tuntutan yang disampaikan oleh para warga desa tidak ditindaklanjuti oleh perusahaan.
“Jika ke depan tidak ditindaklanjuti, tidak ada respon, maka kami bersama seluruh warga kembali akan melakukan aksi yang lebih besar,” tandasnya.
Baca Juga:
Persela Lamongan Bakal Tambah Pemain, Tingkatkan Daya Gedor
Sementara itu, Direktur PT. Lamongan Integrated Shorbase (LIS) Bambang Djoko Sulistiyo mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi dan menguatkan jalinan komunikasi yang jauh lebih baik dengan pihak desa.
“Alhamdulillah, aksi yang dilakukan masih dalam koridor. Kesepakatan yang ada akan kami tindaklanjuti bersama. Ini sebagai langkah awal untuk lebih teliti, sehingga kami harapkan bisa melakukan pembinaan yang lebih baik lagi,” ungkap Djoko.
Menurut Djoko, perlu ada perwakilan dari pihak desa yang bisa menjadi mediator antara pihak perusahaan dengan masyarakat setempat. Dengan demikian, setiap persoalan mampu dimusyawarahkan dengan baik.
“Kita ngomong ke depan, yang sudah terjadi ya sudahlah. Nanti akan kita jabarkan lagi. Ke depan perlu ada mediator yang baik, yang mewakili dari pihak desa, sehingga apa yang sudah kita rinci ada yang monitor. Kalau ada sesuatu kita bicarakan dengan baik dulu,” terangnya.
Lebih lanjut, Djoko berharap, jalinan antara perusahaan dengan masyarakat sekitar bisa lebih harmonis dan kondusif, khususnya perhatian terhadap warga Desa Kemantren.
“Dari segi preventifnya akan jauh lebih kena dan baik. Kami berharap akan lebih kondusif, karena kami tidak bisa lari kemana-mana, sehingga ring satu ini akan selalu jadi perhatian kita,” paparnya.
Sebagai informasi, setelah perwakilan dari pihak desa dan Lamongan Shorbase telah menandatangani kesepakatan berupa surat kerjasama, ratusan warga pun berangsur membubarkan diri dari Balai Desa.[riq/ted]
[berita-terkait number=”3″ tag=”lamongan”]






