Surabaya (beritajatim.com) – Puluhan perwakilan putra dan putri daerah se-Jawa Timur berkolaborasi dengan Ikatan Raka Raki (Irari). Mereka menggelar acara fashion show dalam gelaran “Safari Ramadhan” di Atrium East Rotunda, Grand City Mall, Minggu (9/4/2023).
Hal ini bukan hanya mencari bibit baru raka raki Jawa Timur, namun juga sebagai upaya memperkenalkan busana muslim yang dikemas dengan beragam kreativitas dari masing-masing daerah di Jawa Timur. “Busana muslim colour full. Punya desain masing-masing, ada batik dikombinasi busana muslim dan dipadukan dengan warna lain,” ucap Ketua Irari Jatim Helmi Kahaf
Lebih dari 60 busana muslim dengan desainer lokal dari seluruh perwakilan daerah masing-masing kabupaten/kota se-Jawa Timur diperagakan pada acara fashion tersebut. Bahkan adanya fashion dari para pelaku UMKM ini menjadi langkah awal memperkenalkan kekayaan budaya di wilayah setempat.
BACA JUGA:
Khofifah: Raka-Raki Lini Terdepan Promosikan Wisata dan Potensi Ekonomi Jatim
Salah satunya busana muslim tenun dari Gresik hingga Batik Gajah Uling dari Banyuwangi. “Ada tenun dari Kabupaten Gresik, batik gajah uling dari Banyuwangi. Dikemas dengan desain pakaian beragam, tetapi busana muslim. Ada 64 orang (desainer dan UMKM) di seluruh wilayah Jatim,” ujarnya.
Diharpakan langkah ini bisa membawa nama desainer dan UMKM di Jawa Timur semakin dikenal, baik dalam skala nasional maupun internasional. “Desainnya bukan hanya konvensional tetapi juga modern. Tidak hanya pameran, tapi mempublikasikan dari hasil karya lokal,” ucap dia.
BACA JUGA:
Desainer Surabaya Lia Afif Suguhkan Fashion Ramadhan dan Idul Fitri
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Hudiyono memastikan mendukung penuh langkah Irari dalam memperkenalkan beragam aspek kebudayaan di wilayah setempat. Selain kebudayaan, langkah Irari disebutnya sebagai jalan memaksimalkan promosi sektor pariwisata. “Ini harus didukung. Banyak ilmunya, bukan hanya Safari Ramadhan,” kata Hudiyono.
Sementara aspek ekonomi dari pemasaran busana muslim, Hudiyono menyebut hal itu punya potensi besar mendongkrak pemasukan bagi negara, apalagi Indonesia punya populasi muslim terbesar di dunia. “Jangan sampai impor, maka ini menunjukkan ke masyarakat bisa beli baju khas daerah masing-masing. Memamerkan produk buatan dalam negeri,” ujarnya. [way/suf]






