Malang (beritajatim.com) – Tim dari Universitas Islam Malang (Unisma) yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Nurhidayati, MP meraih pendanaan matching fund dari Kemdikbud Ristek. Dosen dari Fakultas Pertanian (Faperta) ini merancang pupuk organik yang diperkaya dengan partikel nano bernama Nano-particles Enhanced Vermicompost (NEV).
Dalam program Matching Fund, Prof Nurhidayati berkolaborasi dengan Mitra PT. NanoTech Indonesia Global (NIG). Dana yang diperoleh total ratusan juta rupiah dengan rincian, dana matching fund sebesar 347.759.000 Rupiah, dari mitra 358.142.000 Rupiah, dan dana dari perguruan tinggi sebanyak 28.731.700 Rupiah.
Prof Nurhidayati menjelaskan bahwa program matching fund diusulkan melalui platform Kedaireka yang diselenggarakan oleh Kemdikbud Ristek Dikti. Di dalam matching fund ia ingin mengatasi masalah nasional, global dan meningkatkan kinerja perguruan tinggi.
“Dari berbagai masalah itu, kita atasi dengan hasil riset yang kita miliki. Inovasi itu digunakan untuk mengatasi masalah global dan nasional. Produk pupuk organik kami yang dilengkapi NEV sudah dilakukan sejak 2015. Produk ini adalah formulasi vermikompos Plus dengan bahan aditif tepung cangkang telur dan tepung ikan,” ujarnya saat jumpa media, Rabu (15/11/2023) siang.

Produk pupuk organik dengan NEV sudah diuji coba pada berbagai tanaman sayuran, seperti kubis, brokoli, sawi pakcoy, tomat, kangkung, sawi, caisim, dan sayuran lainya. Darisitu terbukti mampu meningkatkan hasil tanaman sebesar 40-80% daripada plot yang memakai pupuk anorganik.
“Dari inovasi ini, kami dapat mengatasi masalah pemanasan global , misalnya emisi karbon. Indonesia dituding sebagai penghasil karbon terbesar di dunia. Pertanian dianggap menyumbang besar, karena bahan di pertanian membutuhkan energi fosil yang besar. Saya memanfaatkan ini dengan energi terbarukan dan limbah, yang diharapkan nanti bermanfaat untuk pertanian di Indonesia,” tuturnya.
Prof Nurhidayati memandang, dengan mengganti pupuk anorganik menjadi organik yang ramah lingkungan tanah dapat lebih mudah di recovery. Dengan begitu, pupuk ini juga mendukung konsep green economy dan pertumbuhan ekonomi pertanian yang ramah lingkungan
“Produk kami bisa menggantikan pupuk kimia, karena harga pupuk meningkat dua kali lipat. Ini kami kenalkan kepada petani dan masyarakat, ini dalam bentuk pupuk organik ditambah unsur NEV,” katanya.
Ia berharap dengan penambahan partikel nano ini, penggunaan pupuk dalam budidaya tanaman efisien dan sesuai dengan kebutuhan tanaman dan tidak merusak lingkungan agroekosistem. Pupuk organik dapat lepas lebih cepat daripada pupuk organik pada umumnya yang relatif lambat tersedia.
Sementara itu, Rektor Unisma, menilai bahwa program matching fund menciptakan kolaborasi dari dunia usaha dan industri dengan perguruan tinggi. Melalui platform kedai reka, dukungan matching fund diberikan dengan 8 indikator yang ditetapkan.
“8 indikator tersebut, meliputi lulusan perguruan tinggi mendapat pekerjaan layak, mahasiswa mendapat pengalaman luar kampus, ada desain pengalaman di luar kampus, praktisi mengajar, hasil kerja dosen diakui masyarakat dan internasional, kerjasama dengan mitra kelas dunia, kolaborasi nasional dan internasional, serta program studi bertaraf internasional,” ujar Prof Maskuri ketika jumpa media. (dan/kun)
BACA JUGA: PSM Bunga Almamater Unisma Raih Gold dan Silver Medal dalam Ajang Internasional






