Ponorogo (beritajatim.com) – Proses autopsi terhadap jenazah santri Pondok Pesantren Gontor tidak digelar sendirian oleh Polres Ponorogo. Untuk proses ini, Polres Ponorogo melibatkan tim forensik Biddokkes Polda Sumatera Selatan.
Kasat reskrim Polres Ponorogo, AKP Nikolas Bagas Yudhi Kurnia memimpin proses ekshumasi jenazah Albar Mahdi, santri Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang tewas teraniaya oleh seniornya. Ekshumasi ditempuh oleh pihak kepolisian atas persetujuan dari orangtua korban.
Polisi, ingin mengungkap kasus dugaan penganiayaan itu terang benderang. Maka dilakukan autopsi, untuk memperkuat alat bukti yang telah dimiliki oleh polisi.
“Hari ini dilakukan autopsi yang dipimpin oleh Kasat Reskrim Polres Ponorogo, di TPU Sungai Selayur, Kecamatan Kalidoni, Palembang,” kata Kapolres Ponorogo AKBP Catur Cahyono Wibowo, Kamis (8/9/2022).
Untuk proses autopsi ini, lima personel Polres Ponorogo diterjunkan. Kemudian, dua dokter foreksin dari Biddokes Polda Sumut, satu dokter dari rumah sakit umum dibantu enam staf kesehatan.
Proses autopsi juga dihadiri oleh orangtua korban dan tim kuasa hukumnya. “Untuk hasilnya, kita tidak bisa memastikan kapannya, tetapi menunggu informasi dari Biddokes Polda Sumsel,” katanya.
Terkait terduga pelaku penganiayaan, Catur menyebut statusnya masih saksi. Polres Ponorogo masih fokus kepada pengumpulan barang bukti dan menunggu hasil autopsi.
[berita-terkait number=”3″ tag=”santri-pondok-gontor”]
Catur menginginkan rangkaian proses penyelidikan sesuai dengan SOP, pro justicia dan KUHAP yang ada. Pihaknya mengupayakan agar proses pengananan perkara ini bisa berjalan cepat.
“Kita proses, pengen cepat. Sesuai dengan SOP (Standart Operation Procedure) dan pro justicia. Tim sudah kita gerakkan, agar proses ini cepat selesai jelas dan terang,” katanya.
Untuk diketahui, berdasarkan keterangan dari para saksi, penyebab terjadinya dugaan tindak pidana penganiayaan itu karena kesalahpahaman antara korban dan 2 santri lainnya dengan santri senior.
“Yang mengalami penganiayaan ada tiga santri, dua santri lainnya hanya mengalami luka-luka. Yang jelas dugaan penganiayaan ini dipicu karena kesalahpahaman,” pungkasnya. [end/beq]






