Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) begitu produktif dalam menghasilkan guru besar. Sebelumnya, pada Kamis 7 Desember 2023, UB mengukuhkan 4 guru besar baru, pada Senin 11 Desember 2023 ini UB kembali mengukuhkan 4 guru besar baru dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), dan Fakultas Peternakan (Fapet).
Keempat guru besar yang dikukuhkan yaitu, Prof. Dr. Dra. Erwin Saraswati, M.Acc., dari FEB, Prof. Dr. Ir. Hardoko, M.S., dari FPIK, Prof. Ir. Hari Dwi Utami, M.S., M.App.Sc., Ph.D., dari Fapet, dan Prof. Dr. Ir. Mohamad Fadjar, M.Sc., dari FPIK. Mereka dikukuhkan dalam prosesi yang berlangsung di Gedung Samantha Krida.
Prof Saraswati menjadi sebagai Profesor aktif ke-27 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Ia dikukuhkan sebagai Profesor dalam bidang Ilmu Akuntansi. Prof Saraswati membuat konsep untuk strategi Corporate Social responsibility (CSR) dengan modifikasi Creating Share Value (CSV) yang bernama Creating Value Responsibility (CVR)..
Guru besar ke-196 di UB dan Profesor ke-355 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan UB ini mengembangkan Konsep CVR dengan konsep CSV. Ia mengembangkan konsep CVR dengan mengintegrasikan konsep fair-trade yang lebih menitiberatkan aspek sosial dan ramah lingkungan, serta sesuai dengan budaya Indonesia untuk saling tolong menolong.
“Para pemangku kepentingan memiliki rasa tanggung jawab terhadap sesama pemangku kepentingan. Oleh karena itu, gagasan ini mempunyai keunggulan menciptakan strategi CSR yang dapat memberikan penciptaan nilai (value creation) bagi para pemangku kepentingan dan mengurangi unsur kapitalisme dalam CSV,” ujarnya saat jumpa pers, Jumat 8 Desember 2023 siang.
Sementara, Prof. Hardoko dikukuhkan sebagai Profesor aktif ke-21 di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dan ke-197 di UB. Ia menjadi Profesor ke-356 dari seluruh Profesor yang dihasilkan UB. Prof. Hardoko, M.S dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Ilmu Pangan Fungsional Hasil Perikanan. Ia merancang MINA SMART sebagai pangan fungsional untuk meningkatkan kecerdasan.
“‘Mina Smart’ dapat dijadikan pangan fungsional untuk meningkatkan kecerdasan yang dapat dikembangkan untuk pengembangan sumberdaya manusia yang cerdas. Kekuatan ‘Mina Smart’ adalah bahan baku cukup berlimpah dan bisa untuk membantu atasi stunting di Indonesia,” ungkapnya.

Kemudian, Prof Hari Dwi Utami sebagai Profesor aktif ke-19 di Fapet dan ke-198 di UB, serta Profesor ke-357 dari seluruh Profesor yang dihasilkan UB. Ia menyampaikan tentang manajemen rantai pasok UMKM produk susu olahan kurang penerapan teknologi informasi dalam operasionalnya sehingga kinerja belum optimal dalam resiliensi menghadapi era digital.
“Saya merumuskan strategi “CERDAS” (collaboration, Efficiency, Redundancy, Diversity, Agility dan Service) untuk aktivitas Manajemen Rantai Pasok (MRP) pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) khususnya produk susu olahan. Strategi ini mengembangkan model hubungan kolaborasi “hulu-hilir”,” ungkap Prof Utami.
Keempat, Prof. Mohamad Fadjar, menyampaikan orasi ilmiah berjudul Teknologi “Si Hitam” : Tinta Cumi-Cumi (Loligo SP.) untuk Kesehatan Ikan dan Udang Budidaya. Prof Fadjar sebagai Profesor aktif ke-22 di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) dan ke-199 di UB.
Temuan teknologi Prof. Mohamad Fadjar “si Hitam” tinta cumi-cumi (Loligo sp.), berasal dari limbah produk industri seafood, murah, efektif dan aplikatif. Teknologi “si Hitam” adalah penggunaan ekstrak cumi-cumi sebagai bahan perendam benih ikan atau udang yang terkena bakteri patogen dengan dosis 265 ppm, si hitam juga merupakan campuran pakan udang dengan dosis 500 mg ekstrak tinta cumi-cumi/kg pakan.
“Dengan adanya ekstrak tinta cumi-cumi sebagai anti bakteri dan immunostimulan pada budidaya ikan dan udang; diharapkan dapat mengurangi dampak serangan patogen sehingga akan mengurangi kematian pada ikan dan udang budidaya, serta meningkatkan produksi dan keberlanjutan akuakultur di Indonesia,” jelas Profesor ke-358 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB ini. (dan/kun)
BACA JUGA: Universitas Brawijaya dan Pelni Konservasi Terumbu Karang di Bangsring Underwater Banyuwangi






