Surabaya (beritajatim.com)- Warga di berbagai daerah menunjukkan dukungan kepada Ganjar Pranowo, bakal calon presiden (capres) 2024, dengan memberikan izin rumahnya dipasang baliho Ganjar. Hal ini sebagai respons atas pencopotan alat peraga dan atribut Ganjar oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Sejumlah foto dan video warga yang membuat pernyataan tersebut viral di media sosial. Warga menulis di berbagai media, seperti kain, kardus, dan kertas, yang ditempel di rumah mereka.
Salah satu video menampilkan warga di Ulujami, Pemalang, yang siap menyediakan rumahnya untuk baliho Ganjar. Ia mengaku sedih melihat banyak atribut Ganjar yang dicopot di pinggir jalan.
“Saya sangat sedih baliho Ganjar dicopotin. Saya siap rumah saya untuk dipasang balihone Mas Ganjar. Silakan untuk dikirimkan ke Mas Ganjar. Terima kasih,” ucapnya.
Foto-foto lain juga menunjukkan tulisan serupa dari warga di berbagai wilayah. Misalnya, ada tulisan ‘Rumah ini sangat siap dipasangi baliho Ganjar-Mahfud’ di sebuah rumah di Rawamerta, Karawang, Jawa Barat.
Foto dan video tersebut tersebar luas di media sosial, terutama platform X. Beberapa akun mengunggahnya dengan caption yang menunjukkan antusiasme dan simpati kepada Ganjar.
“Rakyat mulai CERDAS, Hati nurani BERGERAK, Baliho Ganjar DIBERANGUS dipinggir jalan, warga mulai BERGERAK dgn menghibahkan rumahnya sbg tempat BALIHO & Spanduk Ganjar Pranowo
Gerakan RAKYAT tak akan bisa dibendung oleh siapapun, termasuk keluarga KERAJAAN
#GanjarMahfud2024,” tulis akun @Miduk17.
“Marak baliho dan poster Ganjar-Mahfud dicopotin aparat, rakyat ramai-ramai menyediakan rumah mereka untuk dijadikan tempat pemasangan baliho Ganjar-Mahfud,” tulis akun @yusuf_dumdum.
Baca Juga:
Gerilya TPN Ganjar-Mahfud ke Ponpes dan Kiai Khos Situbondo
Warga yang mengunggah foto dan video tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang dari Jakarta, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Pencopotan baliho Ganjar-Mahfud menuai kritik dari Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud. Deputi Hukum TPN Ganjar-Mahfud, Todung Mulya Lubis, mengecam aksi tersebut sebagai bentuk pelanggaran demokrasi.
Todung menanyakan, mengapa hanya baliho Ganjar-Mahfud yang menjadi sasaran pencopotan. Ia mengajak masyarakat untuk mengawasi netralitas aparat negara.
“Kita harus terus menerus berteriak soal netralitas aparat,” katanya.
Todung juga mengatakan bahwa pihaknya akan meluncurkan pos pengaduan dan call center netralitas aparat negara dalam waktu dekat. Ia mengimbau pejabat dan aparat pemerintahan untuk menjaga netralitas dan integritas pemilu.
“Ujung tindakan ketidaknetralan aparat pasti nantinya akan bermuara ke sengketa pemilu. Kalau pemilu ini cacat maka legitimasi hasil pemenang pemilu tidak akan diperoleh,” jelas Todung. (ted)






