Jember (beritajatim.com) – Ada jalan terpendek di Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang dinamai Jalan Sudarman. Jalan ini terletak di sisi selatan alun-alun, di Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, dengan panjang kurang lebih hanya 100 meter.
Jalan ini memisahkan bangunan kantor Bupati Jember atau kantor Pemerintah Kabupaten Jember dengan alun-alun. Kendaraan hanya boleh berjalan searah dari timur ke barat. Saking pendeknya jalan ini, hanya ada satu bangunan kantor pemerintah daerah di sana.
Tapi, siapa sebenarnya pemilik nama Sudarman itu?
Nama Sudarman diambilkan dari nama bupati Jember pada masa kemerdekaan 1943-1947. Dia dipilih Komite Nasional Indonesia Daerah menggantikan Mas Boediardjo. Namun pria berkacamata ini mengakhiri masa pemerintahannya dengan tragis setelah ditangkap tentara Belanda.
BACA JUGA: Sejarah Masjid Baitul Amien Jember yang Dibangun dengan Urunan Botol dan Gabah
Belanda tidak sedang ingin berdebat. Selasa, 14 Oktober 1947, ratusan tentara Belanda dan dua tank mengepung rumah Sudarman. Ini bukan sekadar penangkapan. Ini semacam pamer kekuatan untuk menunjukkan siapa yang berkuasa.
Sudarman keras kepala. Belanda meringkusnya dan membawanya ke Sidarjo untuk ditahan di sana. Perjalanan ke Sidooarjo dilakukan dengan pengawalan ketat, karena Belanda khawatir serangan dari para pejuang yang dipimpin Sulton Fajar Nyoto. Sudarman memang sangat dihormati para pejuang, karena keberaniannya mendukung perlawanan terhadap Belanda.
Buku ‘Jember dari Waktu ke Waktu’ yang diterbitkan Sekretariat DPRD Kabupaten Jember menyebutkan, Sudarman dijuluki Bupati Pejuang. Ia mai sebagai pejuang di sebuah sel tahanan di Sidoarjo.
Sudarman digantikan Roekmoroto yang dianggap sebagai boneka dan kaki tangan Belanda. Para pejuanh kemerdekaan memilih membentuk Pemerintah Darurat Jember pada 3 Desember 1947 dan mengangkat Raden Joeswono Darmowinoto menjadi bupati pada 3 Desember 1947.
Joeswono dan para pejuang memilih bermarkas di Hutan Wonowiri, Curahnongko, Kecamaran Tempurejo. Ia baru digantikan Raden Soekarto pada 1950, setelah Indonesia berhasil mengusir agresi militer Belanda.
Kini Jalan Sudarman selain untuk perlintasan kendaraan yang hendak ke kantor Pemkab Jember, juga sering digunakan unruk kegiatan apel aparatur sipil negara dan berolahraga. Beberapa kali kegiatan pengumpulan massa seperti aksi unjuk rasa juga dilaksanakan di jalan ini. [wir/beq]







